TaniHub Lirik Denpasar dan Palembang, Incar Pertumbuhan Tiga Kali Lipat

Saat ini TaniHub telah tersedia di Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, dan Surabaya
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 30 April 2019  |  14:30 WIB
TaniHub Lirik Denpasar dan Palembang, Incar Pertumbuhan Tiga Kali Lipat
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto (dari kiri) berbincang dengan CEO & Co-Founder TaniHub dan TaniFund Ivan Arie Sustiawan dan Direktur Bank Bukopin Adhi Brahmantya saat peluncuran TaniFund di Jakarta, Selasa(18/7). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — TaniHub tahun ini mulai berekspansi ke luar Jawa dengan sasaran utama wilayah sekitar Denpasar dan Palembang. Lewat perluasan bisnis tersebut, TaniHub mengincar pertumbuhan hingga tiga kali lipat.

Co-Founder TaniHub Pamitra Wineka menyatakan, saat ini TaniHub telah tersedia di Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, dan Surabaya. Pendanaan praseri A yang diperoleh perusahaan pada tahun lalu menjadi modal untuk memperluas area pelayanan ke luar Jawa.

“Mungkin ekspansi ke Bali dan Palembang. Size bisnis kami sekarang sudah tumbuh empat kali lipat dari tahun lalu. Target kami triple tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Saat ini, TaniHub memiliki dua kanal bisnis yaitu business to business (B2B) dan business to customer (B2C). Proporsi penjualan mayoritas masih disumbang oleh kanal B2B sebesar 92%.

Dia menambahkan, hingga saat ini TaniHub telah berkolaborasi dengan lebih dari 700 kelompok tani di seluruh Indonesia, dengan jumlah petani diperkirakan mencapai 25.000 orang.

Sebagai gambaran, TaniHub merupakan salah satu lini bisnis dari TaniGroup. Selain TaniHub, TaniGroup juga memiliki lini bisnis platform urun dana untuk proyek pertanian bernama TaniFund. Melalui platform ini, masyarakat dapat berinvestasi dengan mengucurkan pendanaan kepada petani yang ingin meningkatkan kapasitas produksinya dalam proyek pertanian yang diusung dan nantinya mendapatkan imbal hasil berkisar 18% hingga 25% per tahun.

Pamitra menambahkan, TaniFund bertujuan memberi akses permodalan kepada petani yang sering dianggap tidak layak mendapatkan pinjaman oleh perbankan.

“Kami sudah menyalurkan pendanaan untuk 68 project. Rata-rata pendanaannya Rp800 juta per project,” ujarnya.

Guna menghindari kredit macet, katanya, perusahaan menyeleksi petani yang berhak mendapatkan pinjaman. Salah satu syaratnya adalah petani telah memiliki rekam jejak menjadi penyuplai produk di TaniHub. Sejauh ini, dia mengklaim, tingkat kesuksesan pinjaman mencapai 100%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, agritech

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup