Inovasi Kercerdasan Buatan Muncul Tiap Bulan

Ada tiga faktor yang menjadi peluang pengembangan AI di Indonesia yaitu inovasi, produktivitas dan daya saing
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 27 Maret 2019  |  08:22 WIB
Inovasi Kercerdasan Buatan Muncul Tiap Bulan
Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee (kanan) dan Director of Corporate, External, Legal & Affairs Reza Topobroto memberikan paparan dalam media briefing di Jakarta, Selasa (12/3/2019). - BisnisFelix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Inovasi baru dalam bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence baru muncul setiap bulan. Perkembangan di bidang AI makin cepat seiring pesatnya adopsi teknologi tersebut oleh korporasi global.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee menyatakan perkembangan teknologi AI berjalan sangat cepat. Bila dulu inovasi lahir setiap tahun, dia menyebut saat ini inovasi baru di bidang AI dapat lahir dalam hitungan bulan saja.

 Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, Micosoft telah melakukan penelitian selama lebih dari 20 tahun mengenai teknologi AI, dengan melibatkan setidaknya 3.500 peneliti dan insinyur yang  berada di Microsoft Research Center di China dan India.

 “Di Indonesia kita punya banyak partner untuk pengembangan AI. Melalui Microsoft Rinna, kami memberikan hibah kepada ITB dan UGM untuk pengembangan teknologi AI di Indonesia,” ujarnya.

Dia menjabarkan, ada tiga faktor yang menjadi peluang pengembangan AI di Indonesia yaitu inovasi, produktivitas dan daya saing. Untuk tingkat inovasi, dia menyebut Indonesia tidak kalah dari Asia Pasifik, sementara level produktivitas Indonesia dalam tiga tahun diyakini juga bakal menyusul Asia Pasifik.

Studi yang dilakukan Microsft Indonesia bersama IDC Indonesia berjudul Future Ready Business: Assessing Asia Pacific’s Growth Potential Through AI  yang mensurvei 112 perusahaan nasional di berbagai sektor menyatakan bahwa baru 14% perusahaan di Indonesia yang telah mengadopsi AI sebagai bagian penting dalam operasional dan strategi bisnisnya sehari-hari, sedangkan 42% baru mulai bereksperimen dengan AI sebagai strategi bisnis.

Sementara itu, 44% sisanya belum mengadopsi AI. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30% perusahaan mengaku masih menunggu teknologi AI untuk berkembang lebih matang sebelum mengadopsinya, sedangkan 14% lagi belum mempertimbangkan untuk mengadopsi AI sama sekali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kecerdasan buatan (AI), solusi ti

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top