Startup Agritech Pangkas Rantai Pasok Produk Petani

Teknologi melalui platform dagang-el maupun warung kios yang didirikan para perusahaan teknologi dapat membuka akses pemasaran baru bagi produk pertanian.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  09:27 WIB
Startup Agritech Pangkas Rantai Pasok Produk Petani
Buah manggis. Foto: Pertanian.go.id

Bisnis.com, JAKARTA — Kolaborasi startup dan BUMDes memangkas rantai distribusi produk pertanian dan perkebunan yang dihasilkan oleh desa, sekaligus membuat petani bisa meraih pendapatan yang lebih tinggi.

Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Wibowo  menghimbau para pelaku perusahaan rintisan untuk memperbanyak kerja sama dengan BUMDes. Menurutnya, teknologi melalui platform dagang-el maupun warung kios yang didirikan para perusahaan teknologi dapat membuka akses pemasaran baru bagi produk pertanian.

“Kami berharap startup dapat memanfaatkan BUMDes. Bisnis modelnya bisa dibangun. Ada beberapa desa yang punya komoditas pertanian yang sama seperti alpukat, manggis, daripada pisah-pisah lebih baik disatukan dan diakomodir, pasti punya skala ekonomi yang lebih besar,” ujarnya saat konferensi pers akuisisi Limakilo oleh Warungpintar, Rabu (27/02).

Dia menambahkan, pihaknya telah mempelajari secara intensif mengenai potensi pemasaran lewat platform dagang-el sejak tahun lalu. Saat ini, dia menyebut telah ada beberapa kerja sama dengan sejumlah perusahaan rintisan, baik di bidang dagang-el maupun teknologi pertanian, di antaranya Blanja.com, RegoPantes, dan Sayurbox.

Dia menyebut, pada 2018 sekitar 61% desa telah memiliki BUMDes, dengan penyerapan tenaga kerja diklaim mencapai 1,07 juta orang. Omzet Bumdes pun diklaim mencapai Rp1,16 triliun, dengagn laba bersih sekitar Rp121 miliar per tahun.

 Jumlah BUMDes terus meningkat setiap tahunnya. Sebagai gambaran, dari 39.149 BUMDes pada 2017, jumlah itu meningkat menjadi 45.549 pada 2018.

Dia pun mengapresiasi proses akuisisi yang dilakukan WarungPintar, perusahaan rintisan teknologi mikro-ritel resmi terhadap Limakilo, sebuah platform yang menyederhanakan rantai pasokan makanan dengan menghubungkan petani ke toko kelontong dan penjual sayur.

“Kami berharap Limakilo dan Warung Pintar tidak hanya mengutamakan penetrasi warungnya, tetapi juga mau menjadi showcase untuk produk-produk BUMDes,” ujarnya.

 Co-Founder dan CEO Warung Pintar Agung Bezharie Hadinegoro menjeaskan, dengan akuisisi ini ribuan mitra Warung Pintar di Jakarta,  Depok, Tangerang dan Banyuwangi akan mendapatkan akses langsung untuk menjual komoditas bahan makanan pokok di warung berbasis digital mereka. 

Permintaan bahan makanan pokok yang tinggi juga diyakini dapat meningkatkan pendapatan pemilik warung.  Di lain sisi,  petani juga akan memiliki harga jual yang lebih baik dan akses lebih luas, seiring dengan bertambahnya jumlah Warung Pintar. 

" Visi kami sangat bersilangan. Kalau partnership, bisa saja yang satu visinya ke kanan yg satu ingin ke kiri. Akhirnya kami pilih bersinergi melalui akuisisi, " ujarnya,  Rabu (27/02).

Dia menambahkan,  Warung Pintar dan Limakilo memiliki visi yang sama,  yaitu meningkatkan kapabilitas usaha mikro di Indonesia dan merevolusi usaha mikro dengan teknologi.   Limakilo menyerap pasokan makanan pokok dengan harga terbaik,  sedangkan Warung Pintar bertujuan untuk menjangkau konsumen dengan menyediakan produk lengkap dalam penjualan. 

"Dengan sinergi baru ini,  kami berharap dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan pemilik warung kami, " ungkapnya. 

Berdiri sejak November 2017, Warung Pintar berfokus pada digitalisasi sistem warung konvensional di Indonesia, antara lain memungkinkan pemantauan terhadap penjualan dan kinerja warung melalui aplikasi, memasang iklan di warung untuk meningkatkan pendapatan,  dan menerima pembayaran non tunai. 

Ekspansi Warung Pintar pun kian gencar setelah mendapatkan pendanaan Series B senilai US$27,5 juta atau sekitar Rp390 miliar pada Januari lalu.  Pendanaan ini merupakan kerjasama dari para investor terdahulu mereka yakni SMDV, 1 Vertex, Pavilion Capital, Line Ventures, Digital Garage, Agaeti, Triputra, Jerry Ng dan EV Growth. Turut berpartisipasi pula dalam pendanaan ini adalah investor baru, yakni OVO.

Sejauh ini,  Warung Pintar telah mengoperasikan lebih dari 1.200 warung di Jakarta,  Tangerang,  Depok dan Banyuwangi. Adapun pada tahun ini,  perusahaan berencana membuka hingga total 5.000 warung baru di Jawa. 

Co-Founder dan CEO Limakilo Walaesa Danto Menyatakan dengan akuisisi ini,  pihaknya berharap dapat meningkatkan pasokan beras dari perusahaan bumi desa menjadi 100 ton pada tahun ini, naik 48 ton dari tahun sebelumnya. 

"Warung tradisional selalu menjadi bagian penting dan tradisi ekonomi Indonesia. Dengan kolaborasi ini,  kami berharap dapat meningkatkan kebiasaan masyarakat untuk berbelanja di warung tradisional, " ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top