Transformasi jadi LinkAja, Tcash Galang Kekuatan Baru

Terhitung sejak Jumat (22/02), aplikasi Tcash akan otomatis terkonversi menjadi LinkAja yang diproduksi oleh PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  10:25 WIB
Transformasi jadi LinkAja, Tcash Galang Kekuatan Baru
Ilustrasi - dok.tcash

Bisnis.com, JAKARTA-- Mulai hari ini, para pengguna Tcash, produk dompet digital milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) akan merasakan perubahan dalam aplikasinya. Pasalnya, terhitung sejak Jumat (22/02), aplikasi Tcash akan otomatis terkonversi menjadi LinkAja yang diproduksi oleh PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).

Finarya merupakan gabungan dari sejumlah perusahaan plat merah seperti Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, Pertamina, dan Telkomsel. Dalam konsorsium tersebut, Telkomsel memiliki kepemilikan mayoritas sebesar 25%, sementara Bank Mandiri, BNI, BRI sebesar 20%, BTN 10% dan Pertamina 5% (Morgan&Stanley Research).

Danu Wicaksana, Direktur Finarya mengatakan, perubahan Tcash menjadi LinkAja ini bertujuan menghadirkan layanan keuangan elektronik yang lebih baik, mudah dan lengkap bagi masyarakat Indonesia.

“Pelanggan Tcash tidak perlu khawatir, karena semua layanan dan fitur yang sebelumnya tersedia pada layanan Tcash tetap dapat diakses dan dinikmati pada layanan LinkAja. Terlebih lagi, kami akan mengembangkan berbagai fitur baru untuk LinkAja dari waktu ke waktu,” ujar pria yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Tcash itu melalui keterangan resmi, Jumat (22/02).

Sinergi dari perusahaan bluechips itu diyakini akan menjadi kekuatan baru yang tak bisa diremehkan. Dikutip dari Riset Morgan& Stanley berjudul LinkAja:New Digital Payment Contender from SoEs, Telkomsel sebagai pemegang saham mayoritas saat ini telah memiliki lebih dari 112 juta pelanggan per Juni 2018, dan 25 juta di antaranya merupakan pengguna Tcash, yang tentu potensial menjadi pelanggan LinkAja. Sementara, Bank Mandiri juga memiliki basis pelanggan yang kuat, setidaknya saat ini terdapat sebanyak 16 juta pemilik kartu elektronik dari berbagai produk seperti e-Money, e-Toll, dsb.

Jaringan luas yang dimiliki oleh BRI dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan pedesaan, terutama populasi masyarakat yang belum memiliki akses keuangan (unbanked). Mengenai infrastruktur, BNI merupakan bank yang cukup andal dalam bidang digital, mengingat bank tersebut merupakan yang pertama kali menerapkan metode scan Quick Response (QR) dan e-wallet di Tanah Air, dengan total pengguna mencapai 4,7 juta.

Menariknya, penetrasi LinkAja juga akan terbantu dengan jaringan lebih dari 6.000 SPBU Pertamina yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan harga produk Pertamina yang lebih tinggi dibandingkan dengan tarif tol, parkir dan pulsa telepon, hal ini berpotensi  mendorong pengguna untuk menyimpan dana dalam jumlah besar di LinkAja. Terlebih, saat ini pemain dominan dompet digital seperti Go-Pay dan Ovo belum berhasil menembus pembayaran di SPBU.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Start Up Indonesia (Amvesindo) Jefri R. Sirait menyatakan, kolaborasi antara sesama pemain dompet digital yang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing akan melahirkan inovasi yang menguntungkan konsumen. Selain itu, hal ini akan membuat pasar menjadi lebih matang dan familiar dengan produk keuangan digital ke depannya.

“Kolaborasi yang ada tentu akan membuat produk yang ditawarkan ke pasar menjadi lebih menarik, bisa dari sisi kecepatan, ketersediaan, keberlanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, di belahan dunia manapun, industri digital merupakan industri yang terbuka bagi siapapun untuk berpartisipasi, baik itu perusahaan lokal maupun asing.

Oleh karena itu, dia menilai kompetisi yang semakin ketat harus dilihat sebagai upaya untuk memberikan konsumen lebih banyak pilihan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
t-cash

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top