Review Honor 8X: Smartphone 'Palugada' dengan Performa Standar

Honor 8X mampu menghasilkan foto yang tetap tajam meski minim cahaya dengan syarat pengguna punya banyak waktu.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 10 Desember 2018  |  13:38 WIB
Review Honor 8X: Smartphone 'Palugada' dengan Performa Standar
Honor 8X - honor

Bisnis.com, JAKARTA — Honor terbilang berani dalam memasarkan produknya. Sejak hadir pada penghujung Maret 2018, sub-brand dari Huawei ini telah memiliki portofolio yang padat yakni 8 produk ponsel mulai dari lini entry level di bawah Rp2 juta hingga yang menyasar pengguna kelas menengah dengan banderol di atas Rp4 jutaan. Produknya yang paling anyar, yakni Honor 8X, masuk ke kategori terakhir.

Kesan mewah langsung terasa saat pertama kali melihat Honor 8X. Secara sekilas tampangnya amat mirip dengan Huawei Nova 3i, terutama tampak belakang. Namun, Honor 8X lebih mentereng dengan bodi kacanya dan aksen lis berwarna lebih gelap di sisi belakang kiri.

Bodi Honor 8X terbilang besar untuk kelasnya dan mungkin akan membuat sebagian orang kesulitan untuk menggunakannya dengan satu tangan. Saat digenggam, Honor 8X terasa solid dan mantap, seperti ponsel flagship.

Untuk anatomi bodi, Honor 8X tak jauh berbeda dengan ponsel lainnya dengan menempatkan slot kartu SIM di sisi kiri atas sedangkan di seberangnya terdapat tombol volume yang sejajar dengan tombol daya. Layaknya ponsel zaman sekarang, Honor 8X tidak memiliki tombol “Home” dan menggantinya dengan tombol navigasi virtual.

Di bagian atas hanya terdapat lubang untuk sensor, sedangkan di bawah terdapat slot audio 3,5 mm. Ini mungkin akan menyenangkan bagi sebagian orang karena fitur satu ini kian jarang ditemui.

Selain itu, di bawah juga ada lubang pengeras suara dan porta pengecas yang sayangnya masih bertipe Micro-USB, padahal kebanyakan ponsel saat ini mulai menggunakan kabel USB Type-C.

Honor 8X mengusung layar berukuran 6,5 inci beresolusi 2.340 x 1.080 piksel dengan aspek rasio 19,5:5. Layar Honor 8X juga menggunakan teknologi chip on film yang memperkecil bagian bezel bawah hingga 4,25 mm dan menghasilkan rasio screen to body hingga 91% dan membuat ruang pandang pengguna kian luas sehingga dapat menikmati visual secara maksimal.

Tentu, Honor 8X juga mengadopsi tren poni atau notch pada layarnya dan ukurannya termasuk kecil karena tidak sampai sepertiga dari lebar layar. Poni ini dapat dihilangkan dengan menyesuaikan pengaturan di setelan ponsel.

Untuk performa, Honor 8X mengandalkan dapur pacu dengan chipset Octa-Core Kirin 710 yang dipadu RAM 4 GB dan kapasitas penyimpanan 128 GB. Spesifikasi tersebut diklaim dapat menghasilkan performa hingga 75% lebih cepat dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Saat dipakai untuk penggunaan harian secara wajar seperti pesan instan, media sosial, surel, serta kamera, performanya cukup mulus meski tidak terasa istimewa.

Bagi penyuka gim, ada fitur GPU Turno untuk memaksimalkan kekuatan pemrosesan gambar demi pengalaman bermain yang lebih mengasyikkan. Sayangnya, meski terasa memberikan sedikit peningkatan, GPU Turbo menguras baterai serta membuat bodi ponsel cepat panas sehingga kurang nyaman dipegang.

Untuk baterai sendiri, Honor 8X memiliki kapasitas daya 3.750 mAh. Untuk penggunaan wajar tanpa GPU Turbo, baterainya terbilang awet dan mampu bertahan seharian.

Minim Cahaya

Terakhir adalah fitur kegemaran sejuta umat yakni kamera. Untuk kamera belakang, Honor 8X resolusi 20 MP dan 2 MP dengan bukaan lensa f/1.8. Honor mengklaim duet kedua kamera tersebut dapat memberikan hasil maksimal termasuk untuk melakukan fotografi pada kondisi minim cahaya.

Hasil foto di kondisi cahaya redup (kiri) dan hasil foto menggunakan mode bokeh (kanan)

Selain itu, kamera Honor 8X juga dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu mengenali aneka objek bahkan hingga 500 skenario fotografi. Teknologi ini dapat diaktifkan dengan mengetuk ikon “AI” di bagian atas layar ketika membuka fitur kamera.

Saat dicoba, kamera mampu mengenali objek yang dibidik meski kadang membutuhkan waktu agak lama atau ada jeda. Misalnya, saat membidik manusia, otomatis notifikasi setelan “Potrait” muncul di layar atau ketika mengambil gambar makanan maka yang keluar adalah notifikasi setelan “Food”.

Hasil foto menggunakan mode AI (kiri) dan tanpa mode AI

Setelah mencoba menggunakannya untuk membidik berbagai objek, hasil foto yang dihasilkan tidak selalu konsisten. Kadang gambar yang muncul terlihat mulus dan alami, tetapi beberapa kali hasil foto sempat terasa agak berlebihan karena kontras yang sangat tinggi.

Hasil foto bokeh-nya pun demikian, pengguna butuh sedikit kesabaran ekstra untuk mendapatkan hasil latar baur yang cantik dan rapi.

Meskipun demikian, untuk fotografi malam hari, Honor 8X sesuai dengan klaimnya karena mampu menghasilkan foto yang tetap tajam meski minim cahaya dengan syarat pengguna bisa meluangkan banyak waktu. Semakin gelap kondisi lingkungan, semakin lama waktu yang dibutuhkan kamera untuk memproses gambar.

Secara keseluruhan, Honor 8X tampaknya cocok bagi Anda yang ingin bergaya. Bodinya yang kokoh dan tampilannya yang cantik dengan pilihan warna biru atau hitam, membuatnya tidak terlihat seperti ponsel kelas menengah.

Di sisi lain, performanya juga tidak mengecewakan, meski tak bisa dibilang sangat istimewa. Dengan banderol Rp4 juta rasanya apa yang ditawarkan Honor 8X akan sepadan, apalagi kabarnya warna merah juga akan segera tersedia. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smartphone, Review gadget

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top