Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Proses Refarming Sudah 32,7%

Tujuan refarming pita frekuensi radio adalah memaksimalkan pemanfaatan spektrum 2,1 GHz.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 06 Februari 2018  |  19:36 WIB
Proses Refarming Sudah 32,7%
Teknisi Telkomsel melakukan perawatan jaringan di salah satu menara Base Transceiver Station (BTS) di kawasan Perkebunan Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/9). - JIBI/Rachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Proses penataan ulang (refarming) pita frekuensi radio 2,1 GHz untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler telah mencapai 32,7%.

Siaran pers Kementerian Komunikasi dan Informatika yang dirilis pada Selasa (6/1) menyatakan proses refarming melibatkan empat operator telekomunikasi yang menguasai blok spektrum di rentang frekuensi 2,1 GHz yaitu PT Indosat Tbk.,  PT Hutchison 3 Indonesia, PT XL Axiata Tbk., dan PT Telekomunikasi Selular.

Tujuan refarming  adalah memaksimalkan pemanfaatan spektrum di frekuensi 2,1 GHz. Caranya yakni dengan membuat penetapan pita frekuensi radio yang berdampingan (contiguous) untuk setiap operator jaringan pita lebar seluler.

Selain optimalisasi, hal ini dapat memberikan solusi terbaik mengatasi jaringan macet (network congestion) sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan yang berkualitas.

Sampai minggu ke-11 sudah ada 180 repeater dan 14.000 NodeB yang di-refarming. Masih ada sisa sisa waktu 11 minggu sampai tanggal 25 April yang ditetapkan sebagai batas waktu pengerjaan.

Poses refarming ini terbagi dalam 42 klaster (wilayah) yang melibatkan 159 kali proses perpindahan blok oleh 3 operator yang memiliki 8.000 base transceiver station (BTS). 

Sejauh ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat kendala yang biasa terjadi pada proses refarming di lapangan adalah BTS yang down dan data administrasi network element yang mismatch.

Selain itu, force majeure seperti meletusnya Gunung Agung pada Desember 2017 pun tidak menghambat refarming di wilayah Bali yang saat itu sedang dilakukan oleh Indosat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

seluler
Editor : Demis Rizky Gosta
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top