Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Industri Peranti Lunak Capai Rp5 Triliun Hingga Akhir 2013

Nilai industri piranti lunak (software) di Indonesia sampai akhir tahun ini diperkirakan mencapai Rp3,5 triliun-Rp5 triliun.
Rezza Aji Pratama
Rezza Aji Pratama - Bisnis.com 08 Desember 2013  |  16:05 WIB
Industri Peranti Lunak Capai Rp5 Triliun Hingga Akhir 2013
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai industri piranti lunak (software) di Indonesia sampai akhir tahun ini diperkirakan mencapai Rp3,5 triliun-Rp5 triliun.

Djarot Subiantoro, Ketua Umum Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesa (Aspiluki), mengatakan sektor software as a service (Saas) meningkat 20-22%, sedangkan software lisensi meningkat 10% tahun ini.

“Secara keseluruhan pertumbuhan industri software tahun ini masih sama dengan tahun lalu, berkisar 18-20%,” ujarnya dalam surat elektonik kepada Bisnis, Sabtu (8/12/2013).

Dia melanjutkan, segmen retail, jasa, dan keuangan menunjukkan perkembangan siginikan dipicu oleh kebutuhan informasi yang menjadi unsur utama bisnis mereka. Selain itu, penetrasi teknologi mobile dengan biaya yang semakin murah di segmen konsumen turut mendorong pertumbuhan industri software.

Sementara itu, tren komputasi awan, baik private cloud, public cloud, dan hybrid, serta bisnis online yang semakin berkembang juga menjadi faktor yang mempengaruhi tren industri software tahun ini.

Menurut Djarot, tren tahun ini juga ditandai dengan semakin besarnya kontribusi developer software lokal. Di segmen korporasi, software lokal menguasi 20% pangsa pasar, sedangkan untuk segmen usaha kecil menengah bisa mencapai 50-60%. Khusus untuk segmen konsumen, software lokal baru memiliki pangsa pasar dibawah 20%.

Ke depan, Djarot mengatakan sektor Saas seperti komputasi awan dan social media akan berkembang pesat. Meski demikian, pasar di segmen korporasi akan lebih berhati-hati dalam mengantisipasi perubahan ekonomi politik. Hal ini membuat korporasi akan fokus pada kebutuhan software yang bisa meningkatkan efisiensi, pengurangan biaya operasi dan otomatisasi proses kerja.

“Tahun depan korporasi akan lebih memilih model operational expenditure (Opex) daripada capital expenditure (Capex) dengan pertimbangan kecepatan, rasio dan biaya,” tambah Djarot.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Gamatechno Indonesia, developer software lokal berbasis di Yogyakarta, Muhammad Aditya Arief Nugraha mengatakan saat ini software lisensi memang masih menguasai pasar.

Namun, Saas akan berkembang pesat karena infrastruktur Internet sudah mulai merata. Menurutnya, Saas bisa menjadi solusi bagi konsumen yang ingin menggunakan software tetapi memiliki dana terbatas.

Aditya melanjutkan, ke depan permintaan software akan semakin banyak karena tren menunjukkan semua organisasi, tak hanya korporasi, mulai menyadari kebutuhan software untuk menunjang aktivitas mereka.

“Selain itu, banyak juga yang sudah mengimplementasikan software tapi ingin upgrade ke seri terbaru,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (8/12/2013).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

software
Editor : Bambang Supriyanto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top