Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Marketplace dan Logistik Bikin e-Commerce Booming

BISNIS.COM, JAKARTA—Sejumlah pihak meyakini bisnis e-commerce bakal berkembang pesat di Indonesia di tahun-tahun mendatang. Hal itu ditunjang dengan semakin matangnya ekosistem termasuk penetrasi Internet yang kian pesat.
Galih Kurniawan
Galih Kurniawan - Bisnis.com 05 Juli 2013  |  01:23 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Sejumlah pihak meyakini bisnis e-commerce bakal berkembang pesat di Indonesia di tahun-tahun mendatang. Hal itu ditunjang dengan semakin matangnya ekosistem termasuk penetrasi Internet yang kian pesat.

Pendiri Ideosource Andi S Boediman mengatakan berdasarkan penelitian yang dia lakukan tahun ini nilai transaksi e-commerce diperkirakan mencapai US$478 juta dari total 19 juta transaksi lebih.

“Jumlah itu baru berdasarkan transaksi barang saja, belum yang lain misalnya seperti tiket,” ujar dia di Jakarta, Kamis (4/7/2013).

Angka transaksi itu diprediksi bakal menembus US$776 juta pada 2014. Andi menyebutkan tahun depan jumlah transaksi barang melalui online dapat mencapai 28.648 juta. Dia mengatakan pada 2009 lalu baru tercatat sekitar 3% dari pengguna Internet di Indonesia berbelanja online. Saat ini jumlahnya diperkirakan sudah mencapai 10%.

Mayoritas produk yang diperjualbelikan adalah fashion, produk kesehatan dan gadget. “Kalau dengan prediksi pengguna Internet bisa sampai 100 juta beberapa tahun lagi, maka akan ada 10 juta orang yang belanja online. Itu sangat besar sekali,” imbuh dia.

Andi menyebutkan perkembangan bisnis e-commerce semakin baik lantaran didukung ekosistem yang memadai. Dahulu pebisnis kerap kali terhambat karena belum banyak kerja sama dengan jasa logistik.

Mereka juga dipusingkan dengan format pembayaran yang belum fleksibel. Saat ini, kata da, sudah banyak jasa logistik yang menyediakan fasilitas khusus. Sejumlah bank juga terbuka untuk bekerja sama dengan pebisnis e-commerce.

Dia mengatakan perkembangan e-commerce di Indonesia mulai mencuat sejak 2011. Saat itu total gross domestic product di Indonesia mencapai US$3.469 per kapita. “Di situlah mulai muncul kelas menengah baru yang memiliki daya beli cukup baik.”

Menurut dia kemunculan e-commerce dengan model marketplace juga memacu perkembangan bisnis e-commerce. Tak hanya perusahaan besar, kalangan UKM dan personal juga dapat berbisnis melalui media tersebut.

Andi menyebutkan bisnis e-commerce biasanya akan mengalami peak pada masa-masa tertentu, salah satunya adalah momen Ramadan dan akhir tahun. Menurut dia sebanyak 70% target transaksi biasanya akan tercapai pada masa Ramadan sedangkan sisanya akan tertutup pada akhir tahun.

CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan ada banyak model bisnis e-commerce yang populer selain marketplace. Beberapa di antaranya adalah iklan baris, online store dan deals. Dari berbagai model tersebut marketplace mulai menunjukkan potensi yang menarik.

Sepanjang 2012, pengguna jejaring sosial di Indonesia ternyata paling aktif se-Asia Tenggara dalam membagi rekomendasi belanja online. Menurut Index e-Commerce yang dilansir Rakuten sebanyak 45% konsumen di dunia secara aktif merekomendasikan produk di media sosial.

Di Indonesia jumlahnya mencapai 78% dari total konsumen yang disurvei. Pengguna di Malaysia yang merekomendasi belanja online hanya tercatat 67%, diikuti Thailand sebesar 65%.

Menurut data penelitian tersebut ketertarikan konsumen dalam belanja sosial meningkat di seluruh dunia. Lonjakan belanja sosial paling besar terjadi di Amerika Serikat di mana 39% konsumen berbelanja dengan memanfaatkan media sosial, naik 20% dibanding Agustus 2012.

Ketua Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Daniel Tumiwa sebelumnya menyebutkan peluang bisnis e-commerce di Indonesia masih cukup besar. Saat ini baru sekitar 6,5% pengguna Internet di Indonesia yang bertransaksi online.

Rata-rata mereka menghabiskan US$256 per tahun. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengguna Internet di Tanah air mencapai 63 juta dan diprediksi menembus 83 juta akhir tahun ini.

Salah satu kondisi positif lain adalah masih murahnya biaya marketing digital. Dia mengatakan di luar negeri biaya marketing digital per gross merchandise value (GMV) mencapai US$0,25. Adapun di Indonesia biayanya lebih kecil hanya mencapai US$0,12 per GMV.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce marketplace ideosource
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top