Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PASAR TI: Cisco Mulai Serius Bidik Indonesia

BISNIS.COM, JAKARTA--Cisco, perusahaan teknologi dan informasi (TI) asal California, mulai serius membidik Indonesia sebagai salah satu pasar kunci mereka di Asia Pasifik pada tahun ini. Sebelumnya, India dan China merupakan pasar kunci perusahaan.
Febrany D. A. Putri
Febrany D. A. Putri - Bisnis.com 03 April 2013  |  17:25 WIB
PASAR TI: Cisco Mulai Serius Bidik Indonesia

BISNIS.COM, JAKARTA--Cisco, perusahaan teknologi dan informasi (TI) asal California, mulai serius membidik Indonesia sebagai salah satu pasar kunci mereka di Asia Pasifik pada tahun ini. Sebelumnya, India dan China merupakan pasar kunci perusahaan.

Managing Director PT Cisco Systems Indonesia Stuart Hendry mengatakan pertumbuhan cepat ekonomi dan populasi muda menjadi pemicu utama mengapa perusahaan melirik Indonesia. Adapun, perkembangan beberapa sektor industri dalam negeri seperti finansial, manufaktur, telekomunikasi, dan pemerintahan menjadi fokus utama Cisco di Indonesia pada tahun ini.

"Perusahaan kami adalah penyedia infrastruktur jaringan. Kami ingin memperluas pangsa pasar di Asia Pasifik dengan membidik negara dengan pasar yang berkembang, salah satunya Indonesia. Kami membidik beberapa sektor industri untuk membantu mereka mengimplementaikan teknologi untuk proses bisnis yang lebih efisien," kata Hendry, di sela-sela Cisco Innovate 2013, Rabu (3/4).

Lebih lanjut Hendry memaparkan, berdasarkan Cisco Visual Networking Index Forecast Highlights 2012-2017 Indonesia, pada akhir tahun ini perusahaan mengestimasi akan terdapat 72,7 juta penduduk atau 29% dari total populasi akan terhubung ke Internet. Prediksi tersebut membuktikan industri Indonesia memiliki potensi besar untuk memperoleh keuntungan dari transformasi dan implementasi teknologi dalam proses bisnis perusahaan.

Vice President APJC Segments & Architectures Cisco Ross Fowler menyebutkan beberapa potensi lainnya dari pasar TI Indonesia. Pada 2017, jumlah perangkat mobile yang terkoneksi ke Internet kan tumbuh mencapai 2,4 juta unit. Trafik data pada perangkat mobile akan meningkat hingga 255,6 TB per bulan pada 2017, sementara jumlah pengguna perangkat mobile akan tumbuh hingga 198,9 juta dengan persentase rata-rata per tahun 3,9%. Pada tahun lalu, berasarkan perhitungan Cisco, pengguna perangkat mobile Indonesia hanya 164,26 juta.

"Trafik koneksi data pada 2017 akan didominasi sebesar 75% oleh machine to machine (M2M), sementara tahun lalu hanya 14%. Oleh karena itu, pada tahun ini di Indonesia, kami akan fokus untuk menghubungkan tak hanya orang dengan perangkat serta data dan informasi, tapi juga perangkat ke perangkat," ujar Fowler.

Untuk menggarap pasar lokal, Cisco akan agresif memasarkan arsitektur jaringan pintar yang terdiri dari jaringan tanpa batas, data center, dan kolaborasi. Untuk jaringan tanpa batas, Cisco menyediakan berbegai solusi yang memungkinkan karyawan perusahaan menggunakan perangkat mobile mereka untuk bekerja (bring your own device/BYOD) melalui Cloud Intellegent Networks, Unified Access, dan Industrial Networking.

Sementara itu, untuk data center, Cisco menyediakan olusi Unified Compute System, Unified Fabric dan Orchestration Management. Solusi kolaborasi menawarkan aplikasi telekonferensi seperti Video Desktop. Aplikasi tersebut memungkinkan karyawan perusahaan saling berkomunikasi dan berkolaborasi tanpa ada pertemuan fisik.

"Tentunya, kami menjamin keamanan masing-masing solusi melalui SecureX. Kami dapat memberikan akses yang aman dari ancaman seperti malware, pencurian data nformasi, melalui visibilitas dan kontrol aplikasi," tambah Fowler.

Fowler menyebutkan, secara global terdapat lima pemicu mengapa cepat atau lambat perusahaan akan beralih dan bertransformasi pada TI mereka, yakni utilisasi aset perusahaan, produktivitas karyawan, efisiensi logistik, peningkatan pengalaman konsumen, dan inovasi. Cisco menakar kelima pemicu tersebut secara global dapat mencapai nilai US$14,4 triliun.

Director Corporate Information & Technology Sinarmas Land Irva Yasni, salah satu klien Cisco, mengklaim transformasi dan implementasi TI perusahaan, telah menghemat 20% hingga 30% biaya kepemilikan aset teknologi (technology cost of ownership).(Foto:topnews.in)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi solusi cisco sinarmas land
Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top