ICBC Gigit Jari, Gelontorkan Rp141 Triliun ke Unit AS Setelah Terkena Ransomware

Redaksi
Senin, 13 November 2023 | 10:51 WIB
Bank ICBC/Ilustrasi
Bank ICBC/Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), bank komersial terbesar ke empat yang beroperasi di ICBC Financial Service (FS), dikabarkan membayar BNY Mellon sebesar US$9 miliar atau Rp141 triliun (kurs: Rp15.713) untuk perdagangan yang belum terselesaikan. 

Dilansir dari The Economic Times, Senin (13/11/2023) dana tersebut juga digunakan untuk menyewa perusahaan keamanan siber agar bank tersebut dapat melanjutkan bisnis normal setelah serangan ransomware, kata sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Unit ICBC di Amerika Serikat mengatakan kepada pelaku pasar pada hari Jumat bahwa mereka berharap untuk menyelesaikan tinjauan siber pada akhir pekan. 

“Dengan opsi tinjauan yang berpotensi meluas hingga hingga minggu depan. Sementara itu, bank menggunakan proses manual dalam berdagang,” tulis dalam laporan The Economic. 

Perlu diketahui, ransomware adalah program jahat alias malware yang mengancam korban dengan cara merusak atau memblokir akses ke data atau sistem penting. Hacker akan meminta uang agar data tersebut bisa diakses kembali.

 Dikutip dari tomshardware, Minggu (12/11/2023), alih-alih menyelesaikan transaksi secara elektronik melalui sistem yang aman, ICBC FS terpaksa mengandalkan pengirim pesan yang membawa USB thumb drive di sekitar Manhattan, New  York yang memuat rincian penyelesaian.

 Dalam unggahan di situs resmi ICBC FS, perusahaan menyebutkan telah melakukan serangan ransomware yang menyebabkan gangguan pada beberapa sistem keuangan. Bahkan, ICBC FS sedang berupaya memastikan pemulihan system yang terganggu.

 “ICBC FS telah melakukan penyelidikan menyeluruh dan melanjutkan upaya pemulihannya dengan dukungan tim profesional ahli keamanan informasi . ICBC FS juga telah melaporkan kejadian ini ke penegak hukum.” kataICBC FS. 

 Menurut laporan Financial Times, mengutip pelaku pasar dan bank, mereka mengatakan bahwa serangan ransomware mencegah unit ICBC melakukan operasi keamanan finansial atas nama pelaku pasar lainnya. 

 Mengingat makin eratnya hubungan Tiongkok dalam sektor keuangan AS, gangguan seperti ini pasti akan menarik banyak perhatian. Faktanya, ICBC adalah satu-satunya pialang saham Tiongkok yang memiliki hak signifikan sebagai pedagang sekuritas di Amerika Serikat.

“ICBC sedang menyelidiki masalah ini dengan cermat dan melakukan yang terbaik untuk menanggapi keadaan darurat dan menyiarkan pengawasan,” tambah juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin. 

Sementara itu, dikutip dari Bloomberg, Departemen Keuangan AS sedang memantau situasii terkait masalah  keamanan siber serta melakukan dengan pelaku utama sektor keuangan, selain regulator federal.

Sayangnya, ICBC belum mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, perusahaan mengatakan telah melakukan penyelidikan menyeluruh dan melanjutkan upaya pemulihan dengan dukungan tim ahli keamanan informasi.

Sebab, penyerangan tersebut dilakukan menggunakan software LockBit 3.0 yang diketahui dikembangkan oleh tim Lockbit. LockBit 3.0 adalah Ransomware penerus dari LockBit Ransomware generasi sebelumnya yaitu LockBit dan LockBit 2.0. Saat pertama kali muncul, LockBit juga dikenal sebagai Ransomware ABCD atau virus .abcd.

LockBit pertama muncul pada 2019. Pada saat itu, virus LockBit disebut .abcd karena namanya merujuk pada ekstensi file yang digunakan untuk mengunci atau menyembunyikan file orang tersebut.

Bahkan, LockBit berspesialisasi dalam meretas perangkat organisasi, bisnis, dan lembaga pemerintah. LockBit telah menyerang organisasi besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. (Afaani Fajrianti)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Redaksi
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper