UMKM Mbula So Manfaatkan Infra Telko untuk Pasarkan Tenun Ikat Palu’e

Media Digital
Kamis, 8 Desember 2022 | 19:53 WIB
Foto: UMKM Mbula So Manfaatkan Infra Telko untuk Pasarkan Tenun Ikat Palu’e
Foto: UMKM Mbula So Manfaatkan Infra Telko untuk Pasarkan Tenun Ikat Palu’e
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Komunitas tenun ikat Mbola So menjadi salah satu usaha kerakyatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mampu memanfaatkan perkembangan infrastruktur telekomunikasi untuk peningkatan ekonomi.

Hal itu menjadi salah satu temuan Tim Jelajah Sinyal, Bisnis Indonesia, yang sejak 27 Oktober 2022 hingga 10 November 2022 menyisir daratan Flores, NTT, untuk melihat langsung fakta di lapangan mengenai perkembangan layanan telekomunikasi, internet, dan pemanfaatan teknologi digital untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat di berbagai sektor kehidupan.

Tim Jelajah Sinyal 2022 menemui komunitas yang didominasi para wanita dari keluarga pengungsi asal Pulau Palu’e itu di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (5/11/2022) siang. Untuk bertahan di pengungsian, mereka menggiatkan kembali warisan seni tenun ikat bermotif khas dengan pewarna alami dalam satu dekade terakhir. 

Para wanita ini menjadi bagian dari 300-an pengungsi asal Pulau Palu’e, Kabupaten Sikka, NTT, yang terpaksa direlokasi ke Maumere akibat erupsi Gunung Rokatenda pada Oktober 2012. Aktivitas vulkanik dari gunung berjenis stratovolcano itu memaksa ratusan warga yang tinggal di pulau di utara Pulau Flores untuk tinggal di Desa Hewuli hingga saat ini. 

Sejak 2017, para wanita di komunitas Mbola So mampu menghasilkan tenun ikat bermotif khas Palu’e dengan pewarna alami. Namun, mereka dihadapkan dengan tantangan untuk memasarkan produk kerajinan tersebut. 

Pada awalnya, Erni dan para wanita di komunitas ini memasarkan kain tenun ikat dengan cara dititipkan ke sanggar milik pemerhati tenun NTT. Dengan kata lain, hasil penjualan akan diberikan kepada komunitas Mbola So setelah kain tenunnya laku.

“Kami bingung mau dipasarkan ke mana sehingga kami titipkan langsung ke sanggar miliki ibu Alfonsa [pemerhati tenun NTT]. Karena bosan menunggu, kami langsung ke sanggar dan mengeluhkan kondisi kami sehingga kadang Ibu Alfonsa memberikan kami uang terlebih dahulu sebelum tenun terjual,” jelasnya.

Dengan kebutuhan ekonomi yang mendesak, tak jarang para wanita penenun ikat ini terpaksa menjajakan produknya di pasar dengan harga yang murah. Kain tenun bermotif khas Palu’e dengan pewarna alami itu dijual jauh di bawah harga yang pantas.

Hal ini menjadi perhatian utama bagi Hendrikus Pedro, salah seorang pengajar di Universitas Nusa Nipa (Unipa) yang aktif mendampingi komunitas Mbola So. 

Berawal dari kebutuhan penelitian terkait ekonomi kerakyatan pada 2019, Pedro hingga saat ini aktif mengadvokasi dan membimbing pengembangan organisasi dan pemasaran kain tenun ikat komunitas Mbola So. Tujuannya, para penenun bisa mendapatkan harga yang layak.

“Ketika pertama kali melihat mereka menggunakan pewarna alami, saya langsung merasa bahwa ini potensi yang kuat sekali… Sangat luar biasa [kain dengan pewarna alami], tapi harganya murah. Mereka butuh untuk kebutuhan pokok,” ungkapnya kepada tim Jelajah Sinyal.

Melihat kondisi yang dihadapi para wanita penenun itu, Pedro secara umum mendorong tiga hal dalam upayanya tersebut yakni peningkatan kualitas, pemasaran dan organisasi yang kuat. Menurutnya, pemasaran menjadi tantangan terberat yang dihadapi komunitas Mbola So.

Pasalnya, pemasaran kain tenun sering kali dihadapkan pada sejumlah ‘oknum’ perantara yang berupaya menekan harga semurah mungkin. 

“Artinya mereka harus jadi tuan atas produk mereka sendiri,” tegas Pedro. Upaya Pedro tersebut mendapatkan dukungan dari Petrus Jefridus Pio. Pria yang akrab disapa Jefri ini merupakan warga Desa Hewuli yang juga merupakan pengungsi asal Pulau Palu’e.

Setelah mengenyam pendidikan tinggi pada 2019, Jefri mendorong para wanita penenun untuk memasarkan kain tenun melalui platform dalam jaringan atau online. Bersama Pedro dan sejumlah mahasiswa dari Unipa, Jefri berupaya meyakinkan para wanita tangguh itu untuk mencoba kanal pemasaran baru tersebut.

“Saya melihat mama-mama di sini berjualan ke pasar yang harganya [kain tenun] kadang tidak seberapa dibandingkan dengan proses tenunnya,” ungkapnya.

Di tengah pandemi Covid-19, Jefri mencoba memasarkan kain tenun khas Palu’e dari komunitas Mbola So ke berbagai daerah. Jefri memanfaatkan berbagai platform online mulai dari Whatsapp, Facebook, TikTok dan berbagai marketplace. Hal itu dimungkinkan dengan dukungan layanan internet yang terbilang stabil di wilayah Desa Hewuli.

Upaya Jefri dan Pedro pun mulai menunjukkan hasil. Penjualan tenun khas ini mulai meningkat dengan jangkauan pasar hingga ke luar negeri yakni ke Korea Selatan dan Malaysia. Selain itu, yang terpenting adalah setiap kain tenun dari komunitas Mbola So mendapatkan harga yang layak.

“Yang lebih dirasakan ketika menjual di pasar online adalah terjual dengan harga standar dan bisa langsung laku, dibeli,” kata Jefri.

Jefri mengatakan ke depan akan terus mendorong pemasaran online tenun khas komunitas Mbola So tersebut. Di samping itu, Jefri dengan dibantu oleh Pedro terus memperkuat organisasi sanggar ini.

Langkah ini ditempuh agar komunitas tenun ini bisa tetap berkarya tanpa kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bahkan bisa menyisihkan dana sebagai tabungan.

Yang pasti, Jefri dan Pedro masih terus memikirkan berbagai macam upaya untuk memperkuat organisasi komunitas Mbola So, meningkatkan kualitas kain tenun dan menjangkau pasar yang lebih luas dengan dengan ditopang layanan digital.

“Sekarang dengan cara online, harga jualnya lebih kuat. Kami ingin terus meningkatkan lagi agar para wanita di komunitas Mbola So dan keluarganya lebih sejahtera,” kata Pedro.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper