Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Perusahaan Menara Telekomunikasi Indonesia, Saling Unjuk Kekuatan

Perusahaan menara telekomunikasi kompak mencatatkan kinerja apik pada kuartal III/2022.
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 02 Desember 2022  |  08:00 WIB
Perusahaan Menara Telekomunikasi Indonesia, Saling Unjuk Kekuatan
Foto : Perusahaan Menara Telekomunikasi Indonesia, Saling Unjuk Kekuatan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA— Perusahaan menara telekomunikasi diprediksi akan terus meningkatkan kapabilitas bisnisnya pada tahun 2023 baik secara organik maupun inorganik. Peluang bisnis untuk menara telekomunikasi masih terbuka lebar seiring pertumbuhan ekonomi digital, meskipun ada tantangan menanti mulai dari isu resesi global, fluktuasi nilai tukar hingga kenaikan suku bunga.

Perusahaan menara telekomunikasi kompak mencatatkan kinerja apik pada kuartal III/2022. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) misalnya mencatatkan laba Rp1,22 triliun, naik 18,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Setali tiga uang, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) membukukan laba Rp1,22 triliun, naik 13,13% (y-o-y). Adapun, PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) meraih laba Rp2,56 triliun, turun tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Henan Putihrai Financial berpendapat terdapat tiga faktor yang membuat sektor ini memiliki peluang yang cerah di masa depan. Pertama, tingkat penetrasi mobile dan fixed broadband di Tanah Air masih relatif rendah dibandingkan negara-negara di ASEAN seperti Malaysia ataupun Thailand. 

Kedua, koneksi 4G nasional juga masih rendah di mana area jangkauan baru sekitar 65%, sementara Malaysia dan Singapura sudah di atas 80%. Ketiga, densitas menara di Tanah Air juga masih rendah yang ditandai dengan 2.700 penduduk untuk setiap menara, sementara Vietnam dan Malaysia masing-masing 1.090 dan 920. 

"Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa masih ada banyak ruang untuk tumbuh khususnya dikarenakan adanya peningkatan kebutuhan komunikasi data sehingga semakin banyak dibutuhkan infrastruktur menara dan serat optik. Kebutuhan infrastruktur menara dapat dipenuhi dengan membangun menara baru (built-to-suit) atau menggunakan menara yang telah ada dengan cara kolokasi,” tulis Henan Putihrai Financial dalam risetnya yang diterima Bisnis. 

MTEL Paling Prospektif 

Berdasarkan tiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bisnis menara tahun-tahun ke depan, Henan Putihrai Financial menjagokan Mitratel menjadi yang paling prospektif dibandingkan perusahaan sejenis lainnya berkat fundamental bisnis yang sangat baik dan valuasi yang masih menarik. 

Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. ini memiliki jumlah menara paling banyak dibandingkan pesaingnya. Mitratel tercatat memiliki 35.051 tower atau menjadi perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara. Hal ini akan memberikan peluang untuk seluruh operator telekomunikasi di Indonesia untuk memanfaatkan menara milik Mitratel dalam mendukung perluasan jangkauan layanannya khususnya dengan kolokasi. Apalagi Mitratel bukan hanya menyediakan space menara saja, namun juga memberikan solusi lengkap beserta konektivitas dan power sesuai kebutuhan operator telekomunikasi.

Selanjutnya dari 35.051 menara yang dimiliki Mitratel, 58% menara berada di luar Pulau Jawa dengan tenancy ratio pada kisaran 1,35 kali. Mayoritas menara di luar Jawa ini dipastikan akan menjadi fokus utama bagi operator telekomunikasi untuk mencari peluang pertumbuhan baru, termasuk dalam menyongsong era 5G. Kolokasi di lokasi tersebut lebih menguntungkan bagi operator telekomunikasi dibandingkan dengan built-to-suit mengingat proses go-to-market lebih cepat. Disisi lain Tower Provider lainnya masih fokus melakukan pengembangan di pulau Jawa. 

Selain itu, jumlah tower yang besar itu juga menjadi modal kuat dari sisi skala keekonomian yang memungkinkan Mitratel dapat beroperasi lebih efisien, sehingga dapat meningkatkan margin keuntungannya. 

Mitratel juga memiliki tingkat hutang yang paling rendah dibandingkan industri, dimana debt to equity Mitratel saat ini kurang dari 0,5x atau jauh lebih rendah rata-rata industri yang hampir 2x. Ini artinya Mitratel memiliki headroom yang lebih luas untuk mendukung ekspansi bisnisnya, termasuk untuk melakukan aktivitas organik dan akuisisi. Seluruh hutang Mitratel tersebut dalam bentuk rupiah sehingga dalam hal ini Mitratel tidak terkena dampak negatif fluktuasi dari mata uang asing. Hal ini cukup berbeda dengan Tower Provider lainnya yang banyak bergantung pada hutang dalam bentuk mata uang asing.

Dengan fundamental yang kuat tersebut, Mitratel menjadi menarik karena valuasinya tergolong relatif rendah. Dari sisi EV/EBITDA saat ini Mitratel di kisaran 10,5x, atau jauh lebih rendah dari TBIG yang berada di kisaran 15x. Semakin menarik lagi, jika dilihat dari sisi pertumbuhan bisnis 5 tahun terakhir pun Mitratel merupakan Tower Provider dengan tingkat pertumbuhan tertinggi baik dari sisi finansial maupun operasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi digital telekomunikasi MTEL
Editor : Media Digital
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top