Minggu Depan, Menkominfo Bertolak ke AS Cek Kesiapan Peluncuran Satria-1

Rahmi Yati
Kamis, 21 Juli 2022 | 15:11 WIB
Ruang kendali Stasiun Bumi Satelit Satria./ Bisnis-Leo Dwi Jatmiko
Ruang kendali Stasiun Bumi Satelit Satria./ Bisnis-Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Bisnis.com, LABUAN BAJO – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate akan berkunjung ke Amerika Serikat pada pekan depan untuk mengecek kesiapan peluncuran Satelit Multifungsi Satelit Indonesia Raya (Satria-1) berkapasitas 150 Gbps.

"Minggu depan saya akan ke Amerika untuk melihat persiapan peluncuran satelit pertama kita 150 Gbps yang akan dilakukan di kuartal I/2023. Kuartal kedua akan disusul sekitar Juli atau Agustus dengan satelit kedua," kata Johnny di Labuan Bajo, Rabu (20/7/2022).

Sebelumnya, Menkominfo mengatakan Indonesia membutuhkan setidaknya 1 Tbps kapasitas satelit sampai dengan 2030. Saat ini, baru terdapat delapan satelit untuk kebutuhan telekomunikasi nasional dengan kapasitas total 50 Gbps.

Dari jumlah itu, dia menyebut 27 Gbps-nya digunakan oleh sektor pemerintah sehingga memang membutuhkan dana yang cukup besar untuk menghadirkan layanan tersebut.

"Sisanya digunakan untuk sektor privat telekomunikasi," ucap Johnny.

Maka dari itu, dia menegaskan saat ini pemerintah tengah menyiapkan dua High Throughput Satellites (HTS) yang sedang diproduksi dengan kapasitas 2x150 Gbps atau 300 Gbps (enam kali kapasitas satelit yang ada saat ini).

Adapun pada kuartal I/2023, rencananya diluncurkan satu satelit dengan kapasitas 150 Gbps dari Amerika Serikat. Sebaliknya, satunya lagi yakni satelit dari Eropa akan diluncurkan pada kuartal kedua tahun depan dengan kapasitas yang sama.

"Selain dua HTS tersebut, Kemenkominfo juga baru-baru ini telah memberikan Hak Labuh [Landing Right] pada satelit Low Earth Orbit [LEO] dari Starlink. Ada juga opetator lain seperti One Web yang saat ini sedang kami evaluasi yang juga berkeinginan memberikan layanan infrastruktur tulang punggung kita," tutur Johnny.

Adapun proyek Satria-1 ini masih dalam proses pembangunan di Prancis oleh Thales. Proyek ini merupakan bentuk nyata upaya pemerintah melalui Kemenkominfo untuk menyediakan konektivitas internet yang inklusif dan merata ke seluruh pelosok negeri, khususnya di wilayah 3T.

Nantinya, setelah tahap pabrikasi selesai, satelit senilai Rp7,68 triliun itu akan diorbitkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat dengan roket Falcon 9-5500 SpaceX milik Elon Musk.

Jika proses produksi dan peluncuran ke orbit berjalan lancar, maka pada akhir 2023 Indonesia secara resmi memiliki satelit dengan kapasitas terbesar di Asia dan kelima terbesar di dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rahmi Yati
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper