Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fenomena El Nino, Penyebab dan Dampaknya

Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.
Robby Fathan
Robby Fathan - Bisnis.com 22 April 2022  |  18:28 WIB
Fenomena El Nino, Penyebab dan Dampaknya
Gagal panen akibat bencana kekeringan - Antara/Saiful Bahri
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - El Nino adalah fenomena perubahan iklim secara global yang diakibatkan oleh memanasnya suhu permukaan air laut Pasifik bagian timur.

El Nino terjadi selama periode rentang 2-7 tahun dan bertahan hingga 12-15 bulan. Ciri-ciri terjadi El Nino adalah meningkatnya suhu muka laut di kawasan Pasifik secara berkala dan meningkatnya perbedaan tekanan udara antara Darwin dan Tahiti.  

Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.

El Nino ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut lebih dari 0,5 °C (0,9 °F) untuk setidaknya lima musim tiga bulan yang tumpang tindih secara berurutan.

Nama El Nino awalnya digunakan selama abad ke-19 oleh para nelayan di Peru utara mengacu pada aliran tahunan perairan khatulistiwa yang hangat ke selatan sekitar waktu Natal.

Ilmuwan Peru kemudian mencatat bahwa perubahan yang lebih intens terjadi pada interval beberapa tahun dan dikaitkan dengan bencana banjir musiman di sepanjang pantai yang biasanya gersang, sedangkan anomali termal berlangsung selama satu tahun atau lebih.

Waktu dan intensitas kejadian El Nino sangat bervariasi. Kejadian pertama yang tercatat dari curah hujan gurun yang tidak biasa adalah pada tahun 1525, ketika penakluk Spanyol Francisco Pizarro mendarat di Peru utara.

Sejarawan berpendapat bahwa hujan gurun dan tumbuh-tumbuhan yang dihadapi oleh orang-orang Spanyol mungkin telah memfasilitasi penaklukan mereka atas kerajaan Inca.

Intensitas episode El Nio bervariasi dari anomali termal yang lemah (2–3 °C [sekitar 4–5 °F]) dengan hanya efek lokal sedang hingga anomali yang sangat kuat (8–10 °C [14–18 °F]) terkait dengan gangguan iklim di seluruh dunia.

Peristiwa El Nino terjadi secara tidak teratur pada interval dua sampai tujuh tahun, dan peristiwa kuat kurang umum. Intermittency sangat bervariasi, bagaimanapun, dan fenomena ini tidak periodik atau dapat diprediksi dalam arti pasang laut .

Proses Terjadinya El Nino

Pada saat-saat tertentu air laut yang panas dari perairan Indonesia bergerak ke arah timur menyusuri equator, hingga sampai ke pantai barat Amerika Selatan (Peru-Bolivia). Pada saat yang bersamaan, air laut yang panas dari pantai Amerika Tengah bergerak ke arah selatan, hingga sampai ke pantai barat PeruEquador.

Akhirnya akan terjadilah pertemuan antara air laut yang panas dari Indonesia dengan air laut yang panas dai Amerika Tengah di pantai barat Peru-Equador, dan berkumpulan massa air laut panas dalam jumlah yang besar dan menempati daerah yang luas.Permukaan air laut yang panas tersebut, kemudian menularkan panasnya pada udara di atasnya, sehingga udara di daerah itu memuai ke atas (konveksi), dan terbentuklah daerah bertekanan rendah, di pantai barat PeruEquador. Akibatnya angin yang menuju Indonesia hanya membawa sedikit uap air, sehingga terjadilah musim kemarau yang panjang

El Nino juga memiliki efek yang kuat pada kehidupan laut di lepas pantai Pasifik. Pada kondisi normal, upwelling membawa air dari kedalaman ke permukaan; air ini dingin dan kaya nutrisi.

Selama El Niño, upwelling melemah atau berhenti sama sekali. Tanpa nutrisi dari dalam, ada lebih sedikit fitoplankton di lepas pantai . Ini mempengaruhi ikan yang memakan fitoplankton dan, pada gilirannya, mempengaruhi semua yang memakan ikan.

Perairan yang lebih hangat juga dapat membawa spesies tropis, seperti tuna ekor kuning dan albacore, ke daerah yang biasanya terlalu dingin.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

badai El Nino Badai El Nino
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top