Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Simak Strategi Smartfren (FREN) Tahun Ini untuk Genjot Pendapatan

Laporan tahunan Smartfren (FREN) selama periode 2018-2020, ARPU Smartfren terus mengalami penurunan dari Rp44.200 pada 2018 menjadi Rp29.600 pada 2020. 
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 01 Februari 2022  |  17:00 WIB
Simak Strategi Smartfren (FREN) Tahun Ini untuk Genjot Pendapatan
PT Smartfren Telecom Tbk. melakukan uji coba jaringan di terowongan MRT Jakarta Istora Mandiri. Selasa (9/4/2019). - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Rerata pendapatan per pelanggan (average revenue per User/ARPU) yang rendah tidak menjadi masalah bagi PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN).

Emiten telekomunikasi FREN lebih memilih memperoleh pelanggan yang banyak meskipun secara ARPU rendah, dengan harapan pendapatan perusahaan secara menyeluruh tetap tumbuh. 

Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengatakan perseroan akan terus fokus mengejar pendapatan dengan mengakuisisi lebih banyak pelanggan. 

Dia mengatakan secara pertumbuhan pendapatan, pada kuartal III/2021 Smartfren mencatatkan kenaikan pendapatan hingga dua digit dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020. Hal itu dapat tercapai karena jumlah pelanggan Smartfren terus bertambah. 

Pada September 2021, jumlah pelanggan Smartfren tercatat sebanyak 32,5 juta pelanggan, bertambah 5 juta pelanggan dibandingkan dengan kuartal III/2020. 

Sementara itu dari sisi pendapatan, tercatat Smartfren membukukan pendapatan senilai Rp7,64 triliun, naik 12 persen secara tahunan. Rugi bersih Smartfren menyusut 74,81 persen menjadi Rp441,72 miliar. 

“Jadi berapa pun ARPU diperoleh sepanjang revenue kita tetap tumbuh, maka itu tujuan kita,” kata Merza dalam diskusi virtual, Senin (31/1/2022). 

Dengan pencapaian tersebut, menurut Merza, Smartfren berada dalam jalur yang benar untuk tumbuh. 

Smartfren akan melanjutkan strateginya membidik pertumbuhan pendapatan dengan memperbanyak jumlah pelanggan. 

Dengan cara tersebut, meski pendapatan per pelanggan kecil, jumlah pengali yang banyak akan membuat pendapatan secara total menjadi besar. 

“ARPU tidak masuk ke dalam neraca, yang masuk neraca laba rugi, jadi mending saya kejar revenue,” kata Merza. 

Sekadar informasi, laporan tahunan Smartfren selama periode 2018-2020, ARPU Smartfren terus mengalami penurunan dari Rp44.200 pada 2018 menjadi Rp29.600 pada 2020. 

Dibandingkan dengan tiga operator besar di Indonesia, Smartfren menjadi satu-satunya operator yang mencatatkan penurunan ARPU terdalam. Pada periode 2018-2020, Telkomsel mencatatkan pertumbuhan ARPU dari Rp41.000 menjadi Rp44.000 pada 2020. 

Sementara itu Indosat mencatatkan pertumbuhan ARPU dari Rp18.700 pada 2018 menjadi Rp32.600 pada 2020. Senada, XL Axiata juga mencatatkan pertumbuhan ARPU dari Rp33.000 menjadi Rp34.000. 

Menurut laporan tahunan Smartfren juga, meskipun mengalami penurunan ARPU, selama periode 2018 -2020, Smartfren juga mencatatkan pertumbuhan jumlah pelanggan yang paling signifikan dibandingkan dengan operator lain. 

Selama periode 2018-2020, jumlah pelanggan Smartfren bertambah 15,6 juta. Sementara itu Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata masing-masing bertambah 6,5 juta, 2,3 juta dan 2,9 juta. 

Adapun untuk penggelaran jaringan 4G, selama periode 2018 -2020, jumlah BTS 4G Smartfren bertambah 19.782 BTS 4G. Telkomsel, Indosat dan XL Axiata pada periode tersebut, mencatatkan pertumbuhan jumlah BTS 4G masing-masing sebanyak  47.452 BTS 3G/4G, 45.837 BTS 4G, dan 24.525 BTS 4G.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smartfren korporasi telekomunikasi Emiten Telekomunikasi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top