Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jumlah Pengguna Streaming Video Surut, Pengamat: Akivitas Kembali Normal

Kondisi perlambatan jumlah pengguna video streaming sejalan dengan mulai dilonggarkannya aktivitas di luar rumah.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 24 Mei 2021  |  06:21 WIB
Netflix. Bloomberg
Netflix. Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Aktivitas masyarakat yang berangsung-angsur kembali normal membuat kenaikan jumlah layanan video sesuai permintaan (video on demand/VoD) mengalami perlambatan.

Ketua Umum Masyarakat Telematika (MASTEL) Indonesia periode 2018-2021 Kristiono mengatakan perlambatan jumlah pengguna ini sejalan dengan mulai dilonggarkannya aktivitas di luar rumah sehingga masyarakat sudah beraktivitas secara normal.

“Fase pembatasan ruang gerak [PSBB] dan pengetatan aktivitas di luar rumah kan dampaknya ternyata tingkat stress meningkat akibat naluri manusia sebagai makhluk sosial terkendala dan pelariannya mencari hiburan yang bisa dinikmati di rumah. Jadi, ketika ini mulai longgar efeknya [bagi SVoD] juga terasa,” ujarnya, Minggu (23/5/2021)

Menurutnya, saat ini para pemain SVoD perlu melakukan strategi khusus untuk bisa menjaga arus jumlah pelanggan ke depannya. Salah satunya, dengan mengombinasikan konten hiburan dan sosialisasi.

“Strategi yang bisa dilakukan mungkin mengkombinasikan kedua kebutuhan manusia, selain bisa memperoleh hiburan juga  sekaligus bersosialisasi,” katanya.

Berdasarkan data Statista, pendapatan segmen video sesuai permintaan (SVoD) di Indonesia diproyeksikan mencapai US$411 juta pada 2021 dengan penetrasi pengguna menjadi 16,5 persen pada 2021 dan diharapkan mencapai 20,4 persen pada 2025.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai tidak ada perlambatan dari peningkatan jumlah pengguna di layanan video streaming. 

“Bukan perlambatan, tetapi analis saja yang terlalu optimis. Kalau tidak pandemi kemungkinan temponya memang perlahan. Kenaikan jumlah pengguna akibat pandemi itu memang tidak salah, tetapi untuk kenaikan berapa persennya ke depan akan beralih persaingannya menyangkut tarif dan layanan daring masing-masing pemain,” ujarnya

Heru mengatakan setiap pemain dapat melancarkan strategi untuk menjual film lama dan baru yang memang disukai pengguna. Tetapi, untuk yang baru harus yang benar-benar film bukan seperti cerita berseri.

“Karena sekali lagi kalau perlambatan kan tidak tumbuh, tetapi jika masih tumbuh bukan perlambatan hanya besarannya tidak sesuai analisa yang mungkin analisnya salah memprediksi karena terlalu optimis. Prediksi itu ada optimis, ada pesimis dan ada yang real saja. Saat ini lebih kembali ke real,” katanya.

Sementara itu, perusahaan khusus yang menganalisis optimasi layanan video daring, Conviva menemukan terdapat peralihan kebiasaan streaming on demand pada masyarakat di Asia.

Dikutip melalui Variety, terdapat peningkatan 15 persen pada kuartal I/2021 untuk layanan streaming video on demand di wilayah Asia dibandingkan pada kuartal pertama tahun sebelumnya.

Conviva menemukan 2 pola utama konsumsi layanan video streaming di Asia. Pertama, layanan on demand meningkat dibandingkan siaran langsung. Kedua, pengguna yang tadinya menggunakan ponsel dan desktop beralih ke layar yang lebih besar di rumah untuk mengakses layanan itu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

videostreaming video on demand (vod) Work From Home
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top