Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Twitter Mulai Analisis Dampak Berbahaya dari Algoritmanya Sendiri

Platform jejaring media sosial Twitter memulai inisiatif baru yang dinamakan Responsible Machine Learning untuk menilai kerugian tidak disengaja yang disebabkan oleh alogirtamanya sendiri.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 16 April 2021  |  13:05 WIB
Twitter Mulai Analisis Dampak Berbahaya dari Algoritmanya Sendiri
Logo Twitter. - Reuters/Kacper Pempel

Bisnis.com, JAKARTA - Platform jejaring media sosial Twitter memulai inisiatif baru yang dinamakan Responsible Machine Learning untuk menilai kerugian tidak disengaja yang disebabkan oleh alogirtamanya sendiri.

Dilansir The Verge, Jumat (16/4/2021), sebuah tim insinyur, peneliti, dan ilmuwan data di perusahaan akan mempelajari bagaimana penggunaan machine learning dapat menyebabkan bias algoritmik yang berdampak negatif pada pengguna. 

Salah satu tugas pertama mereka adalah penilaian bias rasial dan gender dalam algoritma pemangkasan gambar di platform. Sebelumnya, pengguna telah menunjukkan bahwa pratinjau foto yang dipotong otomatis lebih condong ke orang berkulit putih. 

Tim juga akan melihat bagaimana rekomendasi timeline berbeda di seluruh subkelompok ras dan menganalisis rekomendasi konten di berbagai ideologi politik di berbagai negara. 

Twitter mengatakan bakal bekerja sama dengan peneliti akademis pihak ketiga dan akan membagikan hasil analisis yang didapatkannya serta meminta respons atau umpan balik dari khalayak luas. 

Masih belum jelas seberapa besar dampak temuan itu bakal memengaruhi algoritma di platform. Twitter bahkan menyebut hasilnya tidak selalu diterjemahkan dalam perubahan yang terlihat. Bisa saja hanya sebagai peningkatan kesadaran perusahaan menggunakan machine learning

Keputusan Twitter untuk menganalisis algoritmanya sendiri tekait dengan bias yang mungkin ditimbulkan, merupakan langkah serupa yang dilakukan oleh Facebook. Perusahaan Mark Zukerberg itu membentuk tim serupa pada 2020 lalu. 

Dalam beberapa waktu terakhir, memang ada tekanan berkelanjutan dari anggota parlemen berbagai negara untuk menjaga bias algoritmik perusahaan tetap terkendali. 

Twitter juga menyatakan sedang dalam tahap awal untuk mengeksplorasi pilihan algoritma yang berpotensi menawarkan pengguna tentang masukan konten yang bakal disajikan mereka. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

twitter e-Learning
Editor : Fatkhul Maskur

Terpopuler

back to top To top