Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Antisipasi Defisit Air, Masyarakat Dunia Disarankan Terapkan Teknologi Smart Water

Tren ini disebabkan oleh kombinasi dari tiga (3) faktor - pertumbuhan populasi & perubahan demografis, urbanisasi, dan perubahan iklim.
Andhika Anggoro Wening
Andhika Anggoro Wening - Bisnis.com 16 Maret 2021  |  15:30 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat dunia diperkirakan akan menghadapi defisit air pada 2030 mencapai 40 persen dalam kondisi iklim yang sama - atau bahkan lebih buruk - daripada yang kita hadapi sekarang. Tren ini disebabkan oleh kombinasi dari tiga (3) faktor - pertumbuhan populasi & perubahan demografis, urbanisasi, dan perubahan iklim.

Total populasi dunia diperkirakan tumbuh menjadi 9,7 miliar pada tahun 2050. Pada saat yang sama, konsumsi air meningkat 2,5 persen per tahun lebih cepat dari pertumbuhan populasi dunia. Kondisi ini menuntut pengelolaan air yang efisien dan andal untuk memastikan keberlanjutan ketersediaan air bersih untuk seluruh masyarakat dan makhluk di bumi.

Sektor air memiliki tantangan ganda dalam menghadapi perubahan iklim. Di satu sisi, dituntut untuk lebih hemat dengan mengurangi konsumsi energi dan mengutamakan penggunaan energi bersih. Di sisi lain, harus mendorong penggunaan air yang lebih efisien baik di sektor pertanian maupun perkotaan melalui kampanye kesadaran masyarakat dan perbaikan teknik pengelolaan termasuk pencegahan kebocoran.

Hedi Santoso, Business Vice President Industrial Automation Schneider Electric Indonesia & Timor Leste dalam keterangan resmi ke Bisnis, Selasa (16/3/2021), mengatakan "Industri, dan khususnya sektor air dan air limbah, perlu mencari solusi berkelanjutan dalam pengelolaan siklus air yang memfokuskan pada optimalisasi efisiensi energi, peningkatan sirkularitas dengan membangun kolaborasi dengan sektor lain dan memberikan insentif untuk dekarbonisasi, serta terlibat secara mendalam dengan komunitas masyarakat sekitar."

Sejak 2015, World Economic Forum di Davos telah menegaskan krisis air sebagai risiko utama dunia, sektor ini dinilai strategis. Berada pada naungan peraturan yang ketat, perusahaan yang berdedikasi pada pengelolaan dan pasokan air dituntut untuk terus berinvestasi dalam teknologi dan proses pengolahan terbaru, tanpa melalaikan kewajiban untuk menjaga kesinambungan layanan dan keamanan - serta keamanan siber – dari sistem dan fasilitas mereka.

"Sektor air dan air limbah menjadi garda terdepan dalam pengolahan dan penyediaan air bersih dengan pemanfaatan teknologi yang dapat mengurangi biaya operasional, menyediakan kemampuan analisis prediktif, dan mendukung pengambilan keputusan secara real time. Di sinilah Smart Water berperan. Ini bukan lah hal baru, namun dalam beberapa tahun terakhir konsep ini telah menjadi fokus global. Bagaimana teknologi digital dan otomasi berfokus pada pengumpulan dan interpretasi data untuk melakukan semua proses yang membentuk siklus air," lanjut Hedi.

Schneider Electric yang memperoleh pengakuan sebagai salah satu perusahaan paling berkelanjutan di dunia memastikan pabriknya sudah menerapkan efisiensi air dan rencana konservasi. Lebih lanjut, Schneider Electric juga menjawab seruan untuk melakukan aksi yang dikampanyekan pada peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret dengan terus mengembangkan arsitektur EcoStruxure™ for Water and Wastewater yang dapat menghasilkan air berkualitas tinggi, melakukan purifikasi air limbah yang berkelanjutan, dan efisiensi operasional.

“Arsitektur EcoStruxure™ for Water and Wastewater telah banyak dimanfaatkan pada proyek-proyek pengelolaan air dan air limbah di seluruh dunia antara lain Anglian Water di Inggris, Shuqaiq 3 di Arab Saudi, pabrik pengolahan air limbah di California, dan Herning Water di Denmark. Solusi ini telah terbukti dapat mengurangi konsumsi energi hingga 30%, meningkatkan efisiensi operasional pada instalasi pengolahan air dan jaringan distribusi air hingga 25%, dan mengurangi total biaya kepemilikan (TCO) asset hingga 20 persen,” tutup Hedi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

schneider electric kekeringan
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top