Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penggunaan Layanan Digital Kian Masif, Kebutuhan Privasi Ikut Berubah

Pakar privasi di Kaspersky, Vladislav Tushkanov, melihat tahun lalu menjadi waktu bagi pengguna untuk pertama kalinya menyadari seberapa besar informasi yang mereka bagikan dan apa yang mereka dapatkan sebagai imbalan.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 03 Februari 2021  |  18:58 WIB
Ilustrasi logo Yahoo di antara kode siber. - Reuters/Dado Ruvic
Ilustrasi logo Yahoo di antara kode siber. - Reuters/Dado Ruvic

Bisnis.com, JAKARTA - Masifnya penggunaan layanan digital untuk menunjang berbagai macam aktivitas ternyata menyebabkan pergeseran sikap terhadap privasi dan cara pandang masyarakat, organisasi dan pemerintah.

Pakar privasi di Kaspersky, Vladislav Tushkanov, melihat tahun lalu menjadi waktu bagi pengguna untuk pertama kalinya menyadari seberapa besar informasi yang mereka bagikan dan apa yang mereka dapatkan sebagai imbalan.

"Akibatnya, privasi telah menjadi topik panas di persimpangan kepentingan pemerintah, perusahaan dan pribadi, yang memunculkan banyak tren yang berbeda dan bahkan bertentangan dalam bagaimana data tersebut dikumpulkan dan privasi dipertahankan atau, justru sebaliknya, dilanggar," ujar Tushkanov dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (3/2/2021).

Menurut Tushkanov, privasi konsumen akan menjadi sebuah proposisi nilai dan dalam banyak kasus, membutuhkan biaya. Peningkatan pengumpulan data ditambah dengan gejolak politik yang menyebar dan berkembang ke platform digital berimplikasi terhadap pertumbuhan yang cepat dalam kesadaran publik tentang pengumpulan data tanpa batas.

Karena semakin banyak pengguna yang ingin menjaga privasi mereka, organisasi menanggapi dengan menawarkan produk yang berfokus pada privasi kemungkinan jumlah dan keragamannya akan terus bertambah.

Selain itu, penyedia perangkat kesehatan pintar akan mengumpulkan data yang semakin beragam dan penggunaannya juga demikian. Data yang dikumpulkan oleh pelacak kebugaran (fitness tracker), pemantau tekanan darah, dan perangkat lain turut banyak digunakan dalam kasus pengadilan, belum lagi oleh pemasar dan perusahaan asuransi yang juga merasakan manfaatnya.

"Dengan kesehatan menjadi perhatian publik, permintaan akan data semacam itu diprediksi akan terus berkembang," ungkap Tushkanov.

Prediksi selanjutnya, pemerintah akan semakin menaruh perhatian pada akumulasi data berteknologi besar -- dan lebih aktif dalam peraturannya.

Sebagian besar organisasi swasta menolak untuk berbagi data ini, pemerintah diperkirakan akan merespons dengan lebih banyak peraturan yang menghalangi privasi online, dengan perdebatan paling sengit seputar teknologi pelestarian privasi seperti enkripsi end-to-end, DNS-over-HTTPS, dan mata uang kripto.

Perusahaan data juga diperkirakan akan menemukan sumber data yang semakin kreatif, namun terkadang cenderung mengganggu, demi mendorong mesin analisis perilaku.

Pakar privasi juga memprediksi komputasi multi-pihak, privasi diferensial, dan pembelajaran federasi akan menjadi lebih banyak digunakan.

Saat perusahaan menjadi lebih sadar tentang data apa yang sebenarnya mereka butuhkan, dan konsumen menolak pengumpulan data yang tidak dicentang, alat privasi lebih canggih diprediksi akan bermunculan dan menjadi banyak digunakan. Sementara, organisasi teknologi besar memainkan peran untuk menjamin kebaruan standar privasi pengguna yang lebih ketat.

Terakhir, perangkat keras yang lebih canggih diprediksi akan muncul, memungkinkan pengembang untuk membuat alat yang mampu memproses data tingkat lanjut, sehingga dapat mengurangi jumlah data yang dibagikan oleh pengguna dengan organisasi.

Tuskhanov berharap tahun ini dan tahun-tahun mendatang semuanya dapat menemukan keseimbangan antara penggunaan data oleh pemerintah dan bisnis, dan menghormati hak privasi.

"Sebagai kesimpulan, saya ingin menegaskan bahwa kita sebagai konsumen memang tidak memiliki kendali penuh atas data kita. Tapi ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperoleh kembali sebagian dari kendali dan privasi atas data pribadi yang kita miliki," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

digital serangan siber
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top