Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Operator Seluler Diklaim Terlalu Banyak, Butuh Konsolidasi

Jumlah operator seluler yang beroperasi di Indonesia diklaim sudah terlalu banyak, sehingga membutuhkan konsolidasi agar tingkat persaingan semakin sehat.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  14:57 WIB
Ilustrasi SIM Card - Reuters
Ilustrasi SIM Card - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Industri telekomunikasi dinilai lebih membutuhkan pengurangan jumlah pemain melalui skema merger dan akuisisi. Jumlah pemain yang beroperasi sudah terlalu banyak.

Wakil Presiden Direktur PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) Danny Buldansyah menilai kehadiran pemain baru akan membuat semangat konsolidasi pemain di industri telekomunikasi sulit tercapai.

Dia menilai jumlah operator seluler di Indonesia saat ini sudah terlalu banyak. Idealnya jumlah ini berkurang dengan skema konsolidasi agar layanan dan persaingan di industri menjadi lebih sehat.

“Kita tahu bahwa operator seluler sudah terlalu banyak di industri sehingga didorong untuk konsolidasi. Pemerintah inginnya ada konsolidasi industri juga ingin adanya konsolidasi,” kata Danny kepada Bisnis.com, Senin (25/1/2021).

Meski demikian, kata Danny, keputusan untuk menambah atau mengurangi jumlah operator telekomunikasi merupakan wewenang Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Pemerintah diyakini memiliki pertimbangan khusus.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB Ian Yosef M. Edward mengatakan persaingan di industri telekomunikasi saat ini sudah sangat padat.

Dengan lima operator seluler besar – Telkomsel, Indosat, XL, Tri Indonesia dan Smartfren – kompetisi dalam memperebutkan pelanggan dan menjual layanan terjadi sangat ketat. Kehadiran pemain baru persaingan makin ketat ditengah jumlah pengguna gawai yang makin jenuh.

“Jumlah pelanggan kan tidak berubah. Zaman dahulu mungkin pelanggan bisa punya lima nomor operator, kalau sekarang hanya satu saja cukup. Apakah nantinya pelanggan operator tertentu akan pindah? Belum tentu,” kata Ian.

Sebelumnya, PT MNC Investama Tbk. atau MNC Grup menyatakan minat untuk mengembangkan layanan internet cepat 5G di pita frekuensi 2,6 GHz, sehingga berpeluang menjadi operator seluler baru. Direktur Corporate Secretary MNC Group Syafril Nasution mengakui perseroan sempat mengutarakan minat untuk menggelar 5G kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

MNC Grup menjajaki pergelaran 5G di pita frekuensi 2,6 GHz yang saat ini sedang digunakan oleh anak usaha mereka PT MNC Sky Vision Tbk. untuk aktivitas penyiaran. Adapun, perseroan saat ini menggunakan pita sebesar 150 MHz di pita 2,6 GHz. MNC mengantongi izin stasiun radio (ISR).

“Baru bicara saja [dengan Kemenkominfo] Minat sih ada tetapi kami belum sampai ke sana. Penjajakan. Rencananya itu [2,6 GHz] yang kami lihat,” kata Syafril.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top