Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Dampak Positif Bila Startup Unikorn Lakukan IPO

Ekonom Indef Nailahul Huda menilai kehadiran startup unikorn di pasar modal bisa membawa dampak positif kendati tetap ada risiko tinggi untuk gagal.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 22 Desember 2020  |  20:51 WIB
Ilustrasi startup. - olpreneur.com
Ilustrasi startup. - olpreneur.com

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom menilai hadirnya perusahaan rintisan (startup) unicorn di pasar modal dapat memberikan dampak yang sangat positif, salah satunya mengerek kapitalisasi pasar.

Ekonom Indef Nailahul Huda mengatakan bahwa skema pendanaan melalui initial public offering (IPO), baik mandiri maupun special purpose acquisition company (SPAC) merupakan langkah yang bagus untuk mengembangkan usaha.

“Namun, tetap harus dilihat juga bagaimana keuntungan dan risiko baik melalui IPO pribadi maupun SPAC. Saya rasa IPO akan lebih menguntungkan secara materi, tetapi berisiko lebih tinggi mengingat beberapa perusahaan digital yang IPO mengalami kegagalan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa kegagalan tersebut dikarenakan nilai valuasi tidak sesuai dengan nilai riil perusahaan.

“Contohnya, WeWork yang gagal setelah IPO. Saya rasa skema SPAC lebih pas untuk perusahaan digital [saat ini],” ujarnya.

Dia melanjutkan bahwa saat ini isu bahwa unicorn Tanah Air, yakni Traveloka dan Tokopedia tengah mengkaji skema SPAC untuk melantai di bursa menjadi salah satu langkah yang tepat.

“Jika, melakukan SPAC saya rasa perusahaan baik traveloka maupun tokopedia mempunyai kesempatan untuk berkembang karena akan ada dana pengembangan yang masuk. Jika bisa memanfaatkan dana tersebut dengan benar, bisa jadi akan menjadi lebih besar. Bahkan bisa mengikuti jejak IPO Alibaba di kemudian hari,” katanya.

Adapun, dia mengamini bahwa jika empat perusahaan teknologi besar di Indonesia melantai di BEI, otomatis keempatnya akan langsung menjadi penghuni indeks LQ45.

Keempat startup yang dimaksud antara lain, Gojek dengan perkirakaan valuasi US$10 miliar atau sekitar Rp146,46 triliun, Tokopedia dengan angka US$7,5 miliar, Traveloka di nominal US$2,7 miliar, dan Bukalapak di US$2,5 miliar.

“Skema IPO baik melalui pribadi dan SPAC ke depan memang akan jadi alternatif bagi perusahaan digital untuk mencari pendanaan,” ujarnya.

Namun, Huda menilai bahwa tren ini tidak akan berjalan secara cepat mengingat fundamental perusahaan digital yang masih belum kuat.

“Pendanaan langsung baik melalui pendanaan ber-series maupun angel investor masih menjadi pendanaan utama bagi perusahaan digital terutama startup [ke depan],” kata Huda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top