Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peneliti Ungkap Dampak Pandemi ke Paus Bungkuk

Paus bungkuk menjadi satu dari tujuh jenis mamalia raksasa di lautan.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 10 Desember 2020  |  13:50 WIB
Peneliti Ungkap Dampak Pandemi ke Paus Bungkuk
Kapal pesiar biasanya memenuhi Glacier Bay untuk mengamati paus bungkuk. - Bloomberg / Tim Rue
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Para peneliti di Taman Nasional dan Cagar Alam Glacier Bay mengungkapkan pandemi Covid-19 telah meningkatkan kesempatan melakukan penelitian lebih dalam atas aktivitas paus bungkuk.

Paus bungkuk adalah satu dari tujuh jenis raksasa lautan bersama paus biru, paus sei, paus sperma, paus right, paus busur dan paus sirip. Jenis ikan paus sendiri tercatat lebih dari 50 jenis.

Dari beragam paus raksasa ini,  paus bungkuk adalah yang paling atraktif karena suka berakrobat melompat keluar dari air dan menciptakan efek menakjubkan.

Christine Gabriele, ahli biologi satwa liar dari Glacier Bay mengungkapkan pandemi Covid-19 telah mengurangi kebisingan siginifikan dari aktivitas lalu lintas di lautan. Terutama dari aktivitas seismik mencari minyak dan lalu lintas kapal. Kondisi ini membuat para ilmuan dapat melakukan pengamatan yang lebih mendalam terhadap paus bungkuk.

 Pandemi ini mengerikan dan mengurung manusia ke dalam ruang yang sangat kecil tetapi memberi paus kembali banyak ruang untuk tumbuh, baik secara fisik maupun akustik,” kata Christine, mengutip The Verge pada Kamis (10/12/2020).

Menurutnya dengan kondisi yang lebih tenang, para ilmuan berkesempatan untuk mempelajari komunikasi paus lebih mendalam.

Taman Nasional dan Cagar Alam Glacier Bay dalam kondisi normal dipadati ratusan ribu pengunjung setiap tahun. Serta kapal yang lalu lalang menikmati akrobatik paus bungkuk.

Pandemi membuat paus bungkuk punya kesempatan untuk menempati lebih banyak ruang dan waktu bersantai. Peneliti bahkan mengamati mamalia raksasa itu tidur siang.

Peneliti saat ini berfokus mengamati pola komunikasi ibu dan anak paus bungkuk. Ilmuan berfokus mencari jaringan hidrofon, yang pada dasarnya adalah mikrofon bawah air, untuk mendokumentasikan pola komunikasi ini.

Lainnya, para peneliti terus mengamati paus bungkuk dari dekat. Mereka tengah bersiap mengambil sampel biopsi dari paus untuk melihat apakah ada perbedaan dalam hormon stres mereka tahun ini dan tahun depan. Para ilmuan tengah mencari jawaban apakah pola komunikasi paus menjadi lebih kompleks saat mereka dapat mendengar satu sama lain dengan lebih baik akibat suasana yang salama ini bising menjadi tenang.

Penelitian di masa lalu telah menemukan bahwa paus menaikkan suara mereka saat kebisingan sekitar meningkat - seperti halnya manusia di lingkungan yang bising.

Suara sendiri dalam kehidupan laut menjadi salah satu elemen penting. Suara merupakan cara menemukan makanan, dan menghindari predator saat bersamaan.

Harapannya, beberapa dari penelitian ini dapat menginformasikan kebijakan dan kemajuan teknologi yang mungkin dapat menjaga riuhnya lautan di masa depan, bahkan ketika aktivitas ekonomi kembali meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

paus Covid-19
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top