Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Facebook Akhirnya Larang Iklan Anti-vaksinasi

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari dari kebijakan Facebook sebelumnya yang melarang iklan dengan informasi yang salah tentang vaksin, tetapi mengizinkan iklan yang menyatakan penolakan terhadap vaksin jika tidak mengandung klaim palsu.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 16 Oktober 2020  |  17:37 WIB
Logo Facebook - Reuters
Logo Facebook - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Facebook akan melarang iklan yang menghalangi orang untuk divaksinasi.

Melansir The Guardian pada Jumat (16/10/2020), kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari dari kebijakan Facebook sebelumnya yang melarang iklan dengan informasi yang salah tentang vaksin, tetapi mengizinkan iklan yang menyatakan penolakan terhadap vaksin jika tidak mengandung klaim palsu.

Walaupun demikian, Facebook tetap akan mengizinkan konten dan diskusi anti-vaksinuntuk ditampilkan secara organik oleh pengguna, termasuk di grup.

Seorang juru bicara Facebook mengatakan kepada Guardian bahwa kebijakan periklanan Facebook secara keseluruhan lebih ketat daripada standar komunitas yang berlaku untuk pengguna individu dan bahwa perusahaan memiliki kebijakan lain tentang kesalahan informasi kesehatan di luar periklanan, termasuk menandai pernyataan palsu untuk pemeriksaan fakta.

"Jika kami menghapus semua rumor dan hoax, konten tersebut akan tetap tersedia di tempat lain di internet, ekosistem media sosial - atau bahkan di sekitar meja makan. Dengan membiarkan konten ini terbuka, kami dapat memberi orang-orang informasi dan konteks penting alih-alih menciptakan kekosongan informasi," katanya.

Facebook mengatakan akan mulai memberlakukan peraturan baru dalam beberapa hari ke depan. Perubahan itu terjadi ketika raksasa media sosial itu menghadapi tekanan yang meningkat dari anggota parlemen dan kelompok kesehatan masyarakat untuk menindak informasi yang salah dan konten anti-vaksin.

Adapun sebelumnya, platform tersebut melarang konten yang menyangkal atau mendistorsi Holocaust, setelah bertahun-tahun mengalami tekanan.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg di masa lalu lebih menyukai kebebasan berbicara daripada menyensor penolakan Holocaust di platform tersebut tetapi mengatakan pada Senin (12/10) bahwa dia telah mengubah arah dalam beberapa bulan terakhir karena data yang menunjukkan peningkatan kekerasan antisemit.

Minggu lalu Facebook juga melarang konten yang terkait dengan teori konspirasi QAnon dan mengumumkan akan menghentikan iklan politik setelah hari pemilihan di AS, 3 November, untuk mencegah kesalahan informasi pemilu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

facebook Vaksin
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top