Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ant Group Incar Dominasi di Asia Tenggara

Operator Alipay, Ant Group, yang berafiliasi dengan Alibaba Group dikenal agresif melakukan ekspansi di luar negeri terutama untuk melayani konsumen dari China.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 05 September 2020  |  19:00 WIB
Quick Response (QR), kode untuk pembayaran digital menggunakan Alipay dari Ant Group di Hong Kong, Selasa (1/8/2020). - Bloomberg
Quick Response (QR), kode untuk pembayaran digital menggunakan Alipay dari Ant Group di Hong Kong, Selasa (1/8/2020). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah restoran, taksi, dan mesin penjual otomatis di Singapura menerima metode pembayaran Alipay, meski tak banyak warga Negeri Singa ini yang memilikinya.

“Kami mempunyai konsumen dari China, maka kami mengenalkannya,” ungkap seorang pramuniaga di Singapura, dikutip dari Nikkei Asian Review, Sabtu (5/9/2020).

Operator Alipay, Ant Group, yang berafiliasi dengan Alibaba Group dikenal agresif melakukan ekspansi di luar negeri terutama untuk melayani konsumen dari China. Berdasarkan data perusahaan, Alipay sudah bisa diterima di lebih dari 200 negara.  

Dengan rencana melantai di bursa dalam waktu dekat, perusahaan finansial ini siap untuk melangkah lebih jauh.

Ant dilaporkan menargetkan penghimpunan dana US$30 miliar dari dua lokasi yakni Hong Kong Stock Exchange and Shanghai's STAR Market. Jika ini berhasil, maka initial public offering (IPO) yang dilakukan Ant bakal menjadi yang terbesar dalam sejarah.

“Kami akan terus mencari peluang di luar negeri dengan menambah mitra dan melayani konsumen melalui dompet digital secara global,” kata perusahaan ini melalui keterangan resminya.

Ketika Ant mulai mengincar peluang untuk tumbuh di luar negeri, perusahaan ini harus siap berperang dengan sengitnya persaingan di Asia Tenggara. Kawasan ini dikenal sebagai pasar pembayaran elektronik danteknologi finansial yang tengah tumbuh pesat.

Di Asia Tenggara, Ant telah berinvestasi di sejumlah perusahaan antara lain Ascend Money (Thailand), DANA (Indonesia), dan Mynt (Filipina). Yang terbaru, Ant mengumumkan investasinya ke Digital Money atau yang dikenal ‘Wave Money’ di Myanmar dengan kepemilikan saham sebesar 33 persen.

Ketika Ant berinvestasi di pemain lokal, perusahaan ini menyoroti manfaat yang bisa diberikan kepada mitranya misalnya teknologi dan pengetahuannya. Di China, Ant telah membangun teknologi penilaian kredit.  

“Investasi Ant di Wave Money memungkinkan Wave untuk terkoneksi dengan Alipay sehingga bisa mempromosikan inklusi keuangan dan melayani konsumen dengan literasi perbankan yang rendah,” jelas Eksekutif Ant Eric Jing.

Total volume pembayaran Ant di China mencapai 118 triliun yuan selama setahun yang berakhir pada Juni tahun ini. Profit Ant dilaporkan melesat menjadi 21 miliar yuan pada semester I/2020 dari hanya 1,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, Ant harus menghadapi persaingan ketat dengan WeChat di negerinya sehingga ekspansi ke luar negeri menjadi sebuah keharusan.

Ekspansi Ant di Asia Tenggara juga bukannya tanpa persaingan. Perkembangan digitalisasi yang massif dan populasi underbanked yang besar juga telah melahirkan pemain-pemain lokal yang tidak kalah tangguh.

Saat ini, pemain dominan di kawasan ini adalah Grab milik Singapura (GrabPay) dan Gojek milik Indonesia (GoPay) yang memiliki aplikasi dompet digital selain terfokus pada layanan transportasi.

Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki OVO dan LinkAja sebagai pesaing dari GoPay. Di Filipina ada Rabbit LINE dan Momo di Vietnam. DBS Group Holdings milik Singapura pun memiliki aplikasi dompet digital.

Dengan pasar yang jenuh semacam ini, sangat mungkin seseorang menggunakan beberapa aplikasi dompet digital.

Merujuk pada data Google, Temasek Holdings and Bain & Co., nilai pembayaran dompet digital di Asia Tenggara bakal tumbuh menjadi US$114 miliar pada 2025 dari US$22 miliar pada 2019.

“Pandemi Covid-19 akan memacu permintaan transaksi cashless dan akan menggenjot permintaan aplikasi dompet digital pada masa mendatang,” jelas CEO Fave Malaysia, Joel Noeh.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Gojek Alipay

Sumber : Nikkei

Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top