Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fragmen Asteroid Lompati Celah Tata Surya

Tim peneliti termasuk Associate Research Professor Devin L. Schrader dan Research Scientist Jemma Davidson dari Arizona State University Center for Meteorite Studies.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  16:54 WIB
Protoplanetary disk di sekitar HL Tauri. - European Organisation for Astronomical Research (ESO)
Protoplanetary disk di sekitar HL Tauri. - European Organisation for Astronomical Research (ESO)

Bisnis.com, JAKARTA—Penelian baru menunjukkan potongan-potongan kecil asteroid dari tata surya bagian dalam mungkin telah melintasi celah ke tata surya bagian luar. Sesuatu yang pernah dianggap tidak mungkin.

Tim peneliti termasuk Associate Research Professor Devin L. Schrader dan Research Scientist Jemma Davidson dari Arizona State University Center for Meteorite Studies. Penelitian mereka di jurnal Geochimica di Cosmochimica Acta pada 1 Agustus 2020 dengan judul Outward migration of chondrule fragments in the early Solar System: O-isotopic evidence for rocky material crossing the Jupiter Gap?.

Sekitar 1 juta tahun setelah dimulainya tata surya, diperkirakan bahwa sementara inti Jupiter terbentuk, ia menciptakan celah pada cakram protoplanet (cakram gas padat dan debu yang mengelilingi matahari). Disebut sebagai "Celah Jupiter," bahan ini sangat terbatas untuk tidak melewatinya dan diperkirakan telah menciptakan dua reservoir berbeda di dalam disk.

Peneliti telah menemukan bukti dalam meteorit bahwa fragmen kecil asteroid dari tata surya bagian dalam melintasi Jupiter Gap ke tata surya luar. Schrader mengungkapkan penelitian ini memberikan informasi baru tentang dinamika tata surya awal.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa kedua reservoir ini tidak sepenuhnya terisolasi satu sama lain,” ujarnay seperti dikutip dari laman Arizona State University, Selasa (4/8/2020).

Tim peneliti, yang juga termasuk para ilmuwan dari Smithsonian Institution’s National Museum of Natural History, Universitas Hawai?i di Manoa, Universitas Washington di St. Louis, dan Universitas Harvard, terinspirasi untuk melakukan penelitian ini karena sampel yang dibawa kembali dari komet NASA pada misi Stardust.

Sampel-sampel ini mengisyaratkan bahwa komet dapat mengandung material yang bermigrasi dari tata surya bagian dalam ke bagian luar tempat komet terbentuk dan menyarankan bahwa migrasi material mungkin lebih luas di tata surya awal daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Rekan peneliti Timothy McCoy, ketua dan curator meteorit di National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, mengungkapkan misi Stardust seperti mengintip melalui tirai di tata surya paling awal.

"Kami tahu bahwa meteorit dalam koleksi kami dapat membuka jendela sehingga kami dapat melihat seluruh tampilan," ujarnya.

Dengan pemikiran itu, mereka berangkat untuk menguji hipotesis ini menggunakan sampel meteorit, khususnya chondrites, yang ada di tata surya awal. Berkat koleksi besar meteorit dari Pusat Studi Meteorit, Smithsonian Institution dan NASA, mereka memiliki akses ke sampel chondrites yang diyakini telah terbentuk di tata surya bagian dalam serta yang diyakini telah terbentuk di tata surya luar.

Menggunakan probe analisis mikro (untuk mendapatkan gambar beresolusi tinggi dari sampel dan data elemen utama dan minor dari masing-masing mineral) dan spektrometer massa ion sekunder (digunakan untuk menganalisis komposisi isotop sampel), tim dapat memberikan bukti langsung untuk suatu pencampuran bahan yang kompleks antara tata surya bagian dalam dan luar.

"Dengan melihat jenis-jenis sampel yang kami miliki di koleksi Pusat Studi Meteorit, kami dapat menyelidiki bagaimana bahan bergerak di dalam disk protoplanet empat setengah miliar tahun yang lalu," kata rekan penulis Davidson.

Dalam studi selanjutnya, tim berharap untuk belajar lebih banyak dari misi pengembalian sampel asteroid seperti misi Hayabusa 2 Badan Eksplorasi Antariksa Jepang ke asteroid Ryugu, yang dijadwalkan untuk mengembalikan sampel ke Bumi akhir tahun ini dan OSIRIS-REx NASA ke asteroid Bennu, yang diharapkan untuk mengembalikan sampel ke Bumi pada tahun 2023.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asteroid tata surya
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top