Startup Hotel Virtual Dinilai Perlu Pacu Belanja Modal

Pelaku usaha hotel virtual dinilai perlu memacu belanja modalnya untuk meningkatkan layanannya dan bisnisnya, selain hanya memberikan promosi potongan harga.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  19:54 WIB
Startup Hotel Virtual Dinilai Perlu Pacu Belanja Modal
Penginapan

Bisnis.com, JAKARTA -- Perusahaan rintisan hotel virtual dinilai perlu mengeluarkan belanja modal lebih besar untuk memperbaiki kualitas pelayanan, dibandingkan dengan hanya mengeluarkan dana untuk memberikan diskon sewa kepada pelanggan. 

Investor dan Chairman Tempo Animation (Temotion) Alexander Rusli mengatakan perusahaan rintisan hotel virtual saat ini mengeluarkan biaya untuk menawarkan diskon sebagai jalan untuk mengamankan keberlangsungan bisnis.

"Kelihatannya, mereka mau ambil jalan agar deal-deal yang bagus saja yang di pegang. Jadi, mereka bayar di depan, kemudian invest untuk improvisasi kualitas kamar, sebelum kemudian disewakan," ujar Alexander kepada Bisnis.com, Kamis (13/2/2020).

Sebagai latar belakang informasi, bisnis perusahaan rintisan hotel virtual tengah goyang yang ditandai dengan gelombang PHK di beberapa perusahaan terindikasi disebabkan oleh berkurangnya minat para investor.

Mengutip pemberitaan Bisnis 12 Februari 2020, atas hasil dari peninjauan berkala atas penilaian kinerja perusahaan, Reddoorz melakukan PHK terhadap karyawan. PR Manager RedDoorz Puji Agung Budiman mengklaim jumlah karyawan yang terdampak PHK kurang dari 50 orang.

Pada hari yang sama, sebuah berita di Deal Street Asia mengungkapkan kabar yang tak kalah mengejutkan. Pemain virtual hotel operator lain, OYO, dikabarkan berencana menutup lini bisnis co-living miliknya di Indonesia.

Terkait dengan kondisi tersebut, Alexander mengatakan perusahaan rintisan hotel virtual memang tidak memerlukan banyak tenaga kerja jika hanya ingin fokus kepada arus kas dan aset yang telah dimiliki.

Jumlah tenaga kerja yang besar, lanjutnya, diperlukan jika perusahaan ingin melakukan ekspansi dan melakukan akuisisi terhadap perusahaan lain.

"Tapi semua at the price of growth. Jadi, jika valuasinya based on growth, maka celaka juga. Tapi kalau mau cari positif cash flow, ini bagus. Tapi valuasi dasarnya bukan pertumbuhan," kata Alexander.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hotel, virtual

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top