CO-FOUNDER & DIREKTUR TANAM DUIT MUHAMMAD HANIF : "Kami Punya Tugas Bikin Orang Sejahtera"

Awalnya, Tanam Duit adalah perusahaan teknologi finansial agen penjual efek reksa dana. Kini, platform milik PT Star Mercato Capitale itu telah menjelma menjadi mitra distribusi reksadana melalui platform e-commerce yang disegani sekaligus financial planner.
Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari
Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  17:55 WIB
CO-FOUNDER & DIREKTUR TANAM DUIT MUHAMMAD HANIF :
CEO PT Investree Radhika Jaya Adrian Gunadi (kanan) bersama Director of Business Development PT Star Mercato Capitale Muhammad Hanif menandatangani naskah kerja sama, di Jakarta, Senin (6/8/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Pada mulanya, Tanam Duit adalah perusahaan teknologi finansial (tekfin) agen penjual efek reksa dana (APERD). Platform milik PT Star Mercato Capitale ini terus melebarkan mitra distribusi reksadana melalui platform e-commerce, dan financial planner. Untuk mengetahui lebih detail tentang kinerja perusahaan, Bisnis.com mewawancarai Co-Founder sekaligus Direktur Tanam Duit Muhammad Hanif. Berikut petikannya.

Apa latar belakang pendirian Tanam Duit?

Tanam Duit ini kami mulai pada 2017. Namun, kami berempat sebetulnya sudah bekerja bersama sejak 2000-an. Kami dulu support untuk aplikasi di bank-bank.

Kemudian kami kumpul awal 2017. Sesuatu yang dulu kami kerjakan untuk orang lain, sekarang kami create buat diri sendiri. Dulu kami suplai ke bank dan yang pakai aplikasi akhirnya nasabah-nasabah private mereka yang besar-besar.

Kami launching mulai ada web September 2017, kemudian kami mulai ada Android dan IOS pada Juli 2018. Terus terang kami agak nekat. Waktu mulai, ya kami terjun saja karena kami punya pengalaman yang memang selama ini cuma kami taruh di bank yang kami tidak tahu nanti bagaimana jalan bisnisnya. Akhirnya kami duduk bareng, kami bikin beneran.

Bagaimana rasanya setelah ini berjalan?

Awalnya kami agak takut. Menurut pengalaman dan historical banyak orang, di Indonesia lebih mudah kalau bikin fintech itu yang spending-nya belanja atau peer-to peer-lending. Itu habit-nya orang kita.

Sementara itu, kami masuk untuk edukasi orang supaya orang mau belajar menabung dan investasi. Orang Indonesia paling susah diajak berinvestasi. Artinya, kami punya tugas bikin orang Indonesia harusnya wealth, sejahtera. Ini harus punya alasan yang clear untuk meyakinkan founder to make it happen.

Pada awal kami juga takut apakah ini bisa berjalan atau enggak. Namun, dengan pengalaman kami, didukung teman-teman yang jauh lebih muda, mestinya bisa. Tahun ini saya pikir cuma 100.000 users. Kalau di industri itu sudah lumayan banyak.

Kami enggak menyangka secepat itu karena target kami 100.000 itu sudah bagus banget. Kalau sudah sampai di level itu, kami berempat berpikir sudah saatnya sekarang kami perlu gaspol untuk memastikan ini berjalan dan orang punya habit untuk menabung dan mulai melakukan proteksi untuk dirinya sendiri.

Kami jualan asuransi juga. Tidak seperti jualan asuransi pada umumnya, kami akan jual mikro asuransi karena mungkin dengan cara itu, orang akan aware dengan asuransi. Bisa Rp5.000, Rp50.000. Mungkin dengan begitu, orang akan aware dengan asuransi untuk dirinya.

Asuransi mikronya seperti apa?

Secara bertahap, setiap bulan kami akan meluncurkan jenis-jenis asuransi. Untuk tahal pertama, asuransi kesehatan dulu sama gadget yang berhubungan dengan handphone. Zaman sekarang orang mendingan ketinggalan dompet daripada handphone karena semua transaksi bisa pakai handphone.

Kami main di mikro karena penetrasi asuransi di Indonesia belum maksimal. Jangankan kami sebagai pelaku fintech, untuk pelaku asuransi pun, seperti AAJI atau AAUI, sekarang menemukan cara supaya penetrasi asuransi bisa tumbuh. Di sini kami membantu caranya.

Asuransi kesehatan itu kan agak mahal?

Kesehatannya sudah kami pilihkan. Jadi, ada jenis-jenis yang bayarnya itu tidak kontinyu setiap bulan, tetapi bayarnya one time, sekali setahun. Misalnya, kalau masuk musim demam berdarah, akhir tahun biasanya, kami launch asuransi demam berdarah menjelang akhir tahun.

Misalnya bulan depan sudah masuk musim pancaroba, DB mulai merebak, jadi asuransinya khusus buat DB dan tifus saja, misalnya begitu. Jadi dibikin kecil-kecil. Kami ambil spesifik, misalnya ada penyakit tropis, kami akan launching juga produk yang menanggung itu setahun.

Jadi, lebih terjangkau untuk masyarakat. Edukasinya juga dapat. Dimulai dari produk ini dulu, nanti bisa memilih produk-produk lain. Jadi, produk investasi itu hanya bisa diperoleh di perbankan.

Selain reksadana, kami juga memasarkan surat berharga negara, saving bond ritel, dan sukuk tabungan. Jadi, sejak pertama kali online, kami sudah ikut. Kami 3 minggu mempersiapkan itu. Alhamdulillah sampai sekarang kami tetap menjadi mitra distribusi. Sekarang masa penawaran SBR seri 008. Cuma ada tiga platform seperti kami, perusahaan efek yang memasarkan reksa dana yang sekarang juga jualan SBR.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : StartUp
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top