Sociolla Rambah Sistem Pemasaran Omnichannel

PT Social Bella Indonesia, perusahaan teknologi kecantikan pemegang merk platform dagang Sociolla, mulai merambah ke Online to Offline (O2O) dengan mendirikan toko ritel bernama Sociolla Store.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  16:51 WIB
Sociolla Rambah Sistem Pemasaran Omnichannel
Co-Founder dan CEO Social Bella John Rasyid, Co-founder dan CMO Social Bella Chrisanti Indiana, Co-Founder dan Presiden Social Bella Christopher Madiam, Selasa (13/8) - Bisnis/Deandra Syarizka

Bisnis.com, JAKARTA — PT Social Bella Indonesia, perusahaan teknologi kecantikan pemegang merk platform dagang Sociolla, mulai merambah ke Online to Offline (O2O) dengan mendirikan toko ritel bernama Sociolla Store.

 Layanan tersebut melengkapi tiga lini bisnis yang dijalankan perusahaan saat ini, yaitu platform dagang-el Sociolla, media kecantikan Beauty Journal, dan platform media sosial kecantikan bernama Soco yang menjadi wadah para penggunannya memberikan ulasan, sekaligus membeli produk.

 Co-founder dan CEO Social Bella John Rasjid menyatakan perusahaan teknologi yang dipimpinnya ingin menyediakan ekosistem terlengkap bagi penggunannya di bidang kecantikan. Kehadiran toko ritel ini merupakan upaya perusahaan melengkapi pengalaman berbelanja para penggunannya.

 “Kita sudah buka dua toko di Jakarta dua bulan terakhir. Store kita lumayan unik, karena kita ingin menerapkan strategi omnichannel untuk melengkapi customer experience,” ujarnya, Selasa (13/8/2019).

 Dia menambahkan, toko ritelnya terkoneksi langsung dengan aplikasi Soco. Data yang berada di dalam aplikasi digunakan untuk menentukan produk yang akan dijual dalam toko tersebut sekaligus menentukan lokasinya. Untuk sistem pembayarannya, Sociolla juga mengembangkan sistem kasir atau Point of Sales (POS) sendiri untuk operasional tokonya.

 Dalam flagship store­-nya yang berada di Jakarta Barat, perusahaan juga melengkapi toko dengan vending machine yang berisi produk kecantikan, dan area skin shelf yang berisi rak kecantikan yang terletak sejajar dengan wastafel tempat pengunjung dapat mencoba langsung produk pembersih wajah.

 Pelanggan yang mengunjungi toko ritel tersebut dapat melakukan check in melalui aplikasi untuk mendapatkan rekomendasi produk sesuai profilnya.  Selain itu, pengunjung juga dapat memindai kode batang yang ada di kemasan produk melalui aplikasi untuk dapat melihat ulasan produk tersebut dari pengguna lain.

 Menurutnya, sejauh ini antusiasme dari pengunjung cukup positif. Kehadiran toko tersebut juga dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk mendaftar menjadi pengguna Sociolla. Hingga saat ini, pihaknya masih memfokuskan ekspansi toko ritelnya di Jakarta sebelum meluas ke kota lainnya.

 “Kita akan selektif memilih area selanjutnya. Jumlah toko belum menjadi target kami. Kami masih menjadi ekosistem digital,” ujarnya.

 John menambahkan sejauh ini pertumbuhan perusahaannya selama empat tahun berjalan masih cukup positif. Pihaknya mengklaim mencatatkan pertumbuhan Gross Merchandise Value (GMV) tujuh kali lipat pada kuartal I/2019 dibandingkan periode sebelumnya.

 Untuk mendanai ekspansinya, dia mengaku perusahaan masih menggalang pendanaan dari investor. Perusahaan terakhir mendapatkan pendanaan Seri C senilai US$12 juta dari EV Growth, dan dikabarkan tengah menggalang pendanaan Seri D dari sejumlah investor seperti EV Growth dan Temasek Holdings. Namun mengenai hal ini, John menyatakan belum dapat menkonfirmasi.

 “Itu masih rumor, tetapi jelas kami masih membutuhkan bantuan untuk mewujudkan semua mimpi kami, termasuk funding,” ungkapnya.

 Co-Founder dan President of Social Bella Christopher Madiam menyatakan  bisnisnya telah berkembang melampaui platform dagang-el yang selama ini dikenal sebagai Sociolla. Dia menambahkan, selain Beauty Journal dan Soco, pihaknya juga memiliki lini bisnis brand development yang menawarkan layanan distribusi dari hulu ke hilir untuk merek kecantikan dan perawatan diri.

“Kami menangani end-to-end distribution, marketing, sales, semuanya didistribusikan baik melalui jalur ritel dan platform lainnya,” ujarnya.

Dari lebih dari 250 brand yang dipasarkan melalui platformnya, perusahaan telah menjadi distributor sebanyak 12 produk kecantikan asal luar negeri untuk dipasarkan di Indonesia. Beberapa merek yang dipasarkan seperti Mediheal, COSRX, dan masih banyak lainnya.

Berdasarkan data Euromonitor, industri kecantikan Indonesia diproyeksikan tumbuh menjadi US$8 miliar pada 2025, tumbuh 15% dari 2018 sebesar US$5,2 miliar. Potensi pertumbuhan platform dagang-el kecantikan juga dinilai masih cukup besar, mengingat tingkat belanja produk kecantikan per kapita di Indonesia mencapai US$24, cukup rendah bila dibandingkan negara tetangga seperti Filipina US$50 dan Singapura US$178.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top