Selain 3,5 GHz, Berikut Frekuensi yang Dipakai di Negara Lain untuk 5G

Kehadiran generasi ke ima atau 5G perlu dibahas secara matang dengan sejumlah pemangku kepentingan, jika Indonesia tidak mau tertinggal lagi sebagaimana yang terjadi dengan 4G.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 20 Juli 2019  |  09:49 WIB
Selain 3,5 GHz, Berikut Frekuensi yang Dipakai di Negara Lain untuk 5G
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman

Bisnis.com, JAKARTA – Kehadiran generasi ke ima atau 5G perlu dibahas secara matang dengan sejumlah pemangku kepentingan, jika Indonesia tidak mau tertinggal lagi sebagaimana yang terjadi dengan 4G.

Diketahui hingga saat ini, implementasi 5G di Indonesia masih terbentur oleh alokasi spektrum frekuensi yang juga belum ditentukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kemenkominfo sempat berencana menggunakan 3,5 GHz untuk 5G, hanya saja frekuensi tersebut masih digunakan oleh satelit, di samping itu, pemanfaatan satelit di Indonesia juga masif untuk berbagai kebutuhan seperti perbankan hingga telekomunikasi. 

Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) Ririek Adriansyah mengatakan selain 3,5 GHz, faktanya terdapat beberapa frekuesi yang juga telah dimanfaatkan oleh negara-negara lain, yang dapat menjadi pertimbangan pemerintah dalam menghadirkan 5G.

Penyamaan frekuensi dengan negara lain penting untuk menekan biaya investasi. Lantas, frekuensi apa saja yang digunakan oleh negara lain.

Berikut sejumlah frekuensi pada beberapa negara yang telah mengimplementasikan 5G  berdasarkan catatan yang dikumpulkan Bisnis Indonesia:

700 MHz

Frekuensi 700 MHz termasuk dalam frekuensi rendah, sehingga jika menggunakan frekuensi ini, cakupan 5G akan lebih luas. Saat ini frekuensi tersebut masih digunakan untuk tv analog sehingga belum dapat digunakan sampai tv analog beralih ke tv digital.

Beberapa operator di negara Finlandia, Jerman, Perancis, Italia, Amerika Serikat, Mesir dana Saudi Arabia telah menggunakan frekuensi ini untuk 5G.  

 3,5 GHz (C Band)

Frekuensi 3,5 GHz merupakan frekuensi menegah (mid band), pemanfaatan 5G di frekuensi ini memiliki keunggulan yaitu kecepatan yang prima. Meski demikian, cakupannya tidak sebesar 700 MHz.

Seperti yang telah disebutkan bahwa frekuensi ini telah digunakan oleh satelit. Industri satelit menyebut frekuensi ini sebagai frekuensi yang primadona karena cocok dengan bisnis satelit Indonesia.

Diketahui sebagai negara tropis dibutuhkan frekuensi tengah untuk beroperasi agar tahan menghadapi cuaca ekstrem seperti hujan dan badai.

Beberapa operator di negara Finlandia, Republik Ceko, Hungaria, Irlandia, Polandia, Italia, Norwegia, Spanyol,Inggris, Slovakia, Unit Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Jordan, Saudi Arabia dan Australia.

2,6 GHz

Sama seperti frekuensi 3,5 GHz,  frekuensi ini juga bermain ditataran frekuensi tengah. Saat ini frekuensi ini hanya digunakan oleh satelit Indovision SES7 milik MNC untuk kepentingan penyiaran. Diketahui Satelit Indovision akan beroperasi menggunakan frekuensi ini hingga 2028 dengan opsi diperpanjang jika ada satelit baru lagi yang diluncurkan.

Beberapa operator di negara berpopulasi besar menggunakan frekuensi ini untuk 5G, antara lain Amerika Serikat dan China.

26 GHZ

Frekuensi 26 GHz merupakan frekuensi tinggi. Jika menggunakan frekuensi 5G dapat memberikan kecepatan yang sangat optimal namun cakupannya terbilang kecil, karena prinsipnya semakin tinggi frekuensi semakin cepat namun cakupan semakin kecil.

Operator yang ingin menggunakan frekuensi ini perlu berinvestasi lebih besar pada  Base Tranceiver Station (BTS) karena cakupan yang kecil tersebut.

Di samping investasi besar, jika menggunakan frekuensi ini tantangan yang harus dihadapi juga adalah cuaca ekstrem di Indonesia.

Saat ini beberapa operator seluler  di Italia, Korea Selatan dan Amerika Serikat telah menggunkan frekuensi ini.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kominfo, teknologi 5G, 5g

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top