Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BERITA PALSU: Facebook dan Twitter Bergabung dengan 30 Perusahaan "Anti-Hoax"

Facebook dan Twitter bergabung dengan jaringan beranggotakan 30 perusahaan media dan teknologi untuk memerangi berita palsu ("hoax") dan meningkatkan kualitas informasi di media sosial.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 14 September 2016  |  10:35 WIB
BERITA PALSU: Facebook dan Twitter Bergabung dengan 30 Perusahaan "Anti-Hoax"
Ilustrasi: Kue kering berkarakter media sosial - Istimewa

Bisnis.com, NEW YORK - Maraknya berita palsu atau hoax telah menurunkan kualitas informasi di media sosial.

Facebook dan Twitter bergabung dengan jaringan beranggotakan 30 perusahaan media dan teknologi untuk memerangi berita palsu ("hoax") dan meningkatkan kualitas informasi di media sosial, demikian keduanya menyatakan pada Selasa waktu setempat, seperti dikutip Antara, Rabu (14/9/2016) dari Reuters.

Jaringan bernama First Draft Coalition yang dibentuk pada Juni 2015 dengan dukungan dari perusahaan induk Google, Alphabet Inc., tersebut mempunyai misi menciptakan kode etik independen dan mempromosikan literasi berita pada pengguna media sosial.

Mereka juga berencana meluncurkan perangkat yang berfungsi untuk memeriksa kebenaran sebuah berita.

Perangkat itu akan diluncurkan pada akhir Oktober mendatang, kata Jenni Sargent, direktur pelaksana jaringan First Draft Coalition, melalui surat elektronik.

Beberapa anggota koalisi tersebut di antaranya adalah surat kabar New York Times, Washington Post, Buzzfeed News, Agence France-Presse, dan CNN.

Facebook, yang merupakan jaringan media sosial terbesar di dunia dengan pengguna bulanan sekitar 1,7 miliar orang, telah berulangkali dikritik karena secara tidak langsung berperan menyebarkan informasi dan berita palsu.

Sementara Twitter, yang mempunyai pengguna harian sekitar 140 juta orang, selama ini memainkan peran penting dalam menyebarkan berita terhangat dan laporan langsung dari saksi mata.

Pada Agustus lalu, Facebook meningkatkan penggunaan otomatisasi untuk menyeleksi topik paling hangat dengan fitur Trending sebagai cara untuk mengurangi bias.

Sementara Twitter pada Juli lalu menghapus postingan dari kelompok-kelompok radikal yang mengglorifikasi serangan teror truk di Nice, Prancis. Atas kebijakan itu, mereka dipuji oleh sejumlah lembaga pemantau media.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

facebook twitter media sosial Medsos

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top