Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Diminta Waspadai Layanan Whatsapp

Pemerintah diminta untuk mewaspadai layanan OTT asing Whatsapp yang diyakini masih dapat dibobol oleh pihak ketiga meskipun saat ini sudah menerapkan fitur enkripsi pada sistem keamanannya.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 07 April 2016  |  17:54 WIB
Pemerintah Diminta Waspadai Layanan Whatsapp

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah diminta untuk mewaspadai layanan OTT asing Whatsapp yang diyakini masih dapat dibobol oleh pihak ketiga meskipun saat ini sudah menerapkan fitur enkripsi pada sistem keamanannya.

Pratama Persadha, Chairman lembaga riset keamanan cyber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) menjelaskan sampai saat ini tidak ada sistem keamanan yang tidak bisa diretas oleh pihak ketiga, meskipun sistem keamanan tersebut sudah dienkripsi sedemikian rupa oleh Whatsapp.

Menurutnya, enkripsi yang aman dari tangan orang ketiga terletak pada kekuatan alogaritma yang dibuat oleh Whatsapp, semakin kuat alogaritma yang dibuat, maka akan semakin sulit ditembus keamanannya.

“Tidak ada sistem pengamanan yang 100% aman dan tidak bisa diretas, ini semua tergantung dari kekuatan alogaritma enkripsinya saja,” tuturnya kepada Bisnis melalui pesan singkat di Jakarta, Kamis (7/4).

Menurut Chairman CISSReC itu, fitur enkripsi yang baru saja diterapkan oleh Whatsapp dalam beberapa hari terakhir untuk memberikan rasa aman kepada penggunanya, ternyata masih belum cukup aman dari pihak ketiga.

Karena itu, Pratama mengimbau kepada institusi pemerintah agar tidak lagi menggunakan Whatsapp untuk melakukan komunikasi yang sangat penting, mengingat seluruh riwayat chat yang ada di Whatsapp tersimpan pada Google Drive dan tidak menutup kemungkinan Google Drive juga dapat dibobol.

“Jadi, kalau penggunanya adalah masyarakat biasa, Whatsapp ini bisa digunakan untuk menambah pengamanan privacy kita, tapi untuk governemnt dan military sector, wajib menggunakan sistem pengamanan yang sudah terpercaya kekuatannya,” katanya.

Mantan Ketua Tim IT kepresidenan itu juga menambahkan server WhatsApp yang berada di Amerika Serikat patut menjadi pertimbangan seluruh institusi pemerintah untuk menggunakan Whatsapp saat ini.

Pasalnya, lembaga intelijen Amerika Serikat seperti National Security Agency (NSA) diyakini memiliki kemampuan untuk membuka semua “kunci” enkripsi, termasuk enkripsi yang baru saja dibuat oleh Whatsapp.

“Karena secara default layanan backup yang digunakan oleh WhatsApp adalah Google Drive yang masih bisa diakses pemerintah manapun dengan permintaan khusus. Berbeda dengan aplikasi serupa yang punya standar keamanan dan militer tingkat tinggi," ujarnya.

Menurut Pratama, tren penggunaan enkripsi kini sudah mulai banyak digunakan di seluruh model teknologi sejalan dengan semakin tingginya ketergantungan manusia terhadap internet. Praatama menjelaskan enkripsi saat ini banyak digunakan untuk mengamankan data, jaringan dan komunikasi.

“Di tanah air sendiri enkripsi sudah dikemabngkan oleh Lembaga Sandi Negara dan beberapa perusahaan security anak bangsa,” tukasnya.

Seperti diketahui, WhatsApp baru saja mengeluarkan fitur terbarunya yaitu layanan instant messaging yang menerapkan sistem enkripsi untuk melindungi percakapan antar pengguna.

Dari penjelasan resmi Whatsapp, pesan antar pengguna WhatsApp terlindungi dengan protokol enkripsi end-to-end.

Fitur ini diyakini berfungsi agar pesan tidak bisa dibaca maupun disadap oleh pihak ketiga dan bahkan tidak bisa dibaca oleh WhatsApp sendiri.

Pesan tersebut hanya bisa dibaca oleh penerima yang dituju, termasuk layanan telepon, gambar, video, pesan suara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

whatsapp Medsos
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top