Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TELEKOMUNIKASI SELULER Myanmar Berkembang Lamban

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 Januari 2013  |  15:45 WIB

 

JAKARTA—Revolusi telekomunikasi mobile di Myanmar belum menunjukkan titik terang lantaran sejumlah persoalan. Upaya pemerintah setempat untuk meningkatkan penggunaan ponsel dari 5-10% menjadi 80% pun masih jadi tanda tanya.

 

Seperti dilaporkan  Reuters, Minggu (20/1/2013) waktu setempat, pekan lalu Pemerintah Myanmar menggelar expressions of interest dengan mengundang sejumlah pihak untuk mendapatkan dua lisensi mobile yang tersedia.

 

 Agenda ini menjadi langkah awal bagi telekomunikasi mobile di Myanmar untuk memangkas jarak dengan Bangladesh yang penduduknya sudah banyak menggunakan ponsel.

 

Dalam sebuah konferensi teknologi tahun lalu, operator milik Pemerintah Myanmar Barcamp Yangon menjadi buah bibir dengan rencana mereka meluncurkan SIM card berharga US$6 atau hanya 1% dari harga aslinya.

 

Setahun berselang, Barcamp kembali dengan cerita lain dengan rencana peluncuran SIM card berharga US$100 pekan ini. Meski dianggap tidak terlalu mahal, namun sejumlah pihak tetap merasa kecewa.

 

"Waktu terus berjalan. Orang-orang di sini semakin frustrasi karena terlalu banyak spekulasi,” ujar Ravi Chhabra, wirausahawan teknologi setempat.

 

Presiden Myanmar Thein Sein sebelumnya telah menegaskan, komunikasi mobile merupakan salah satu fokus kebijakannya. Dia juga menjanjikan biaya telekomunikasi mobile murah.

 

Agenda expressions of interest dua lisensi mobile dianggap sebagai titik terang perkembangan telekomunikasi di Myanmar. Namun sejumlah pihak mengatakan jadwal itu cukup mengejutkan karena payung hukum yang menaunginya belum disetujui parlemen. Pemerintah Myanmar berharap regulasi itu sudah disetujui parlemen pada Juni mendatang.

 

Namun kabar mengejutkan justru terdengar dari Menteri Telekomunikasi Myanmar Thein Tun. Pejabat yang bertanggung jawab pada lisensi mobile itu memutuskan mundur. Belum ada keterangan resmi yang menyebutkan alasan Tun melepas jabatannya.

 

"Ini seperti gempa bumi. Publik harus melihat bangunan [telekomunikasi] runtuh,” kata seorang sumber yang dekat dengan Tun.

 

Namun tidak semua orang terkejut dengan rentetan peristiwa itu. Konsultan Vriens and Partners di Yangon Romain Caillaud mengatakan peristiwa itu justru dapat mengakselerasi dan meliberalisasi pertumbuhan sektor telekomunikasi di Myanmar. (sut)

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Galih Kurniawan

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top