Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DPR minta CP & operator Nakal diberangus

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 November 2011  |  19:49 WIB

 

JAKARTA: Panja Pencurian Pulsa Komisi I DPR minta Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) segera menata ulang regulasi tata kelola telekomunikasi seluler dan membersihkan bisnis SMS premium dari content provider (CP) atau penyedia konten dan operator telekomunikasi nakal. 
 
Panja yang terbentuk karena maraknya pencurian pulsa SMS premium itu juga menyarankan agar BRTI menjatuhkan sanksi bagi CP dan operator telekomunikasi yang terbukti mencuri pulsa konsumen. 
 
Ketiga permintaan ini disampaikan Ketua Harian Panja Pencurian Pulsa Tantowi Yahya hari ini sebelum melaksanakan rapat dengar pendapat dengan korban pencurian pulsa, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Masyarakat Telekomunikasi Indonesia pada Kamis mendatang. 
 
Menurutnya, permintaan itu didasari temuan-temuan Panja selama ini dan bakal dikuatkan dengan hasil rapat dengar pendapat dan rapat dengar pendapat umum pada masa rapat Panja. Salah satu temuan Panja yakni terkuaknya kerugian pulsa konsumen hingga mencapai Rp1 triliun. 
 
"Juga muncul keresahan masyarakat terhadap oknum-oknum yang mencuri pulsa mereka," katanya di gedung DPR hari ini. 
 
Tak hanya kerugian di kalangan konsumen, bisnis SMS premium pun rugi besar. Panja mencatat sejak bisnis SMS premium CP dihentikan pada 13 Oktober, bisnis ini hanya menyisakan pendapatan 0,5% dari total pendapatan sebelumnya yang mencapai Rp8 triliun hingga Rp10 triliun. Serupa bisnis SMS premium, bisnis ring back tone (RBT) juga menurun drastis. 
 
Menurut Tantowi, pendapatan industri label musik pascapenghetian RBT turun sampai 85% dari total pendapatan sebelum dihentikan pemerintah.   
 
"Jadi memang industri ini [SMS premium] sekarat. Sedangkan, industri musik masih bisa bertahan karena masih bisa berharap pada event management, artist management, dan penjualan fisik walau tidak signifikan. Para CP ketika bisnis distop sejak 13 Oktober ya berhenti total," tuturnya.
 
Tak hanya temuan-temuan tersebut, Panja juga sudah menyimpan data awal terjadinya mafia di antara CP, operator telekomunikasi, oknum BRTI, oknum Kemkominfo,d an pengusaha yang berada di balik CP. 
 
"Karena itulah Panja akan mengungkap secara rinci. Kalau kami memiliki bukti kami akan mengkriminalkan siapa saja, entah itu Kemkominfo, oknum BRTI, atau mereka yang di balik CP dan operator," tutur M. Najib, Sekretaris Harian Panja Pencurian Pulsa. (sut) 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Gloria Natalia

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top