Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Data eHAC Diduga Bocor, Nama Indonesia Bakal Tercoreng

Nama Indonesia bakal tercoreng usai adanya dugaan kebocoran data pada aplikasi eHAC.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 31 Agustus 2021  |  17:19 WIB
Seorang pengguna eHAC di Kota Bekasi, Jawa Barat, memperlihatkan aplikasi lama yang sudah tidak berfungsi, Selasa (31/8/2021). ANTARA - Andi Firdaus
Seorang pengguna eHAC di Kota Bekasi, Jawa Barat, memperlihatkan aplikasi lama yang sudah tidak berfungsi, Selasa (31/8/2021). ANTARA - Andi Firdaus

Bisnis.com, JAKARTA – Dugaan kebocoran data pengguna Electronic Health Alert Card atau eHAC dinilai bakal mencoreng Indonesia di mata internasional.

Pengamat keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya berpendapat kebocoran data dari aplikasi milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tersebut bisa terjadi akibat kecerobohoan pengelolaan data.

“Sebenarnya, data yang rahasia dan penting itu sebaiknya tidak ditaruh di internet. Seharusnya, data ditaruh di server yang dilindungi,” ujarnya, Selasa (31/8/2021).

Alfons mengatakan jika memang kondisinya memaksa untuk di simpan dalam internet, maka harus dilakukan enkripsi. Sementara, kedua langkah krusial tersebut tidak Indonesia lakukan, sehingga data bocor karena mudah diretas.

Menurutnya, kasus peretasan ini mudah dilakukan karena minimnya perlindungan data pada peladen tersebut. Kebocoran data tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi yang baik dari pemerintah terkait dengan pengelolaan dan penyimpanan.

Fenomena tersebut, lanjutnya, bakal mempermalukan Indonesia di mata negara lain. Dengan kata lain, kebocoran data kesehatan yang terjadi pada level kementerian akan mencoreng muka Indonesia.

Selama ini, tiap turis asing yang masuk ke Indonesia harus mengisi data di eHAC sebagai syarat perizinan. Namun, data tersebut malah bocor sehingga membuat wisatawan akan berpikir Indonesia kurang bertanggung jawab.

Dia berharap kebocoran data ini bisa jadi contoh untuk para institusi lain yang menyimpan data secara digital agar tidak melakukan hal yang sama. Kendati saat ini sudah bekerja sama dengan Pedulilindungi, akan tetapi bukan berarti data pasti akan aman.

“Sebagai contoh, Linkedin yang dikelola secara profesional oleh Microsoft bisa jebol juga. Jadi, sebenarnya data itu harus dikelola dengan baik dan berkesinambungan. Pedulilindungi juga harus belajar dan mengerti amanah ini,” ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenkes serangan siber
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top