Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ditemukan, Fosil Udang Bermata Lima

Filum arthropoda, mulai dari lobster dan kepiting hingga laba-laba dan kaki seribu, membentuk sekitar 80 persen dari semua spesies hewan yang hidup saat ini dengan ciri-ciri memiliki exoskeleton (kerangka eksternal) yang keras.
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 05 November 2020  |  19:39 WIB
Udang bermata 5
Udang bermata 5

Bisnis.com, JAKARTA - Penemuan fosil makhluk mirip dengan udang tetapi bermata lima yang hidup sekitar 520 juta tahun lalu, dapat mengakhiri perdebatan berkepanjangan tentang evolusi salah satu hewan paling umum di Bumi.

Filum arthropoda, mulai dari lobster dan kepiting hingga laba-laba dan kaki seribu, membentuk sekitar 80 persen dari semua spesies hewan yang hidup saat ini dengan ciri-ciri memiliki exoskeleton (kerangka eksternal) yang keras.

Tetapi evolusi mereka telah lama menjadi misteri, karena nenek moyang kuno mereka membawa berbagai karakter tubuh maupun ciri-ciri lainnya yang tidak dimiliki oleh keturunan modern mereka.

Hingga ditemukannya Kylinxia zhangi, hewan ini merupakan makhluk mirip udang yang diawetkan dalam fosil dan telah ditemukan di provinsi Yunnan di China. Sebuah penemuan yang menurut para peneliti sekarang bisa menjadi kunci dari "mata rantai yang hilang" dalam evolusi artropoda.

Seperti arthropoda masa kini, Kylinxia memiliki cangkang yang keras, tubuh tersegmentasi dan kaki bersendi.

Tetapi makhluk purba itu juga memiliki karakteristik yang sama bahkan dengan hewan yang lebih tua, para peneliti terkemuka menamainya sama dengan "Kylin", yang merupakan makhluk dalam mitologi tradisional Tiongkok yanag memiliki atribut atau ciri-ciri dari berbagai hewan.

Dikarenakan mata yang dimiliki hewan tersebut memiliki tiga mata yang lebih kecil yang berjejer di atas kepalanya, dengan dua yang lebih besar tepat di belakang.

Ini mungkin terdengar aneh, tapi ini adalah fitur yang pernah dilihat ilmuwan sebelumnya, pada makhluk purba bernama Opabinia, yang secara umum dikenal sebagai "keajaiban aneh".
Serta dua appendages di bagian depan yang runcing yang dimiliki Kylinxia, menurut para peneliti, mengingatkan pada makhluk lain yang dianggap sebagai nenek moyang arthropoda yaitu Anomalocaris.

CELAH DALAM EVOLUSI

Meskipun keduanya secara teori dianggap sebagai prekursor bagi arthropoda modern, celah evolusioner dalam jejak fosil membuat hal itu sulit dibuktikan hingga penemuan ini ditemukan pada minggu ini.

"Kylinxia mewakili fosil transisi penting yang diprediksi oleh teori evolusi Darwin," ujar Han Zeng, penulis pertama studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature, pada hari Rabu (4 November) seperti  dikutip dari channelnewsasia.com.

"Fosil ini menjembatani kesenjangan evolusi dari Anomalocaris ke arthropoda sejati dan membentuk 'mata rantai yang hilang' dalam asal usul arthropoda," tambah Zeng, yang juga merupakan seorang peneliti di Institut Geologi dan Paleontologi Nanjing (NIGPAS).

Faktanya, ketika fosil pertama terungkap, hanya kaki depannya yang terlihat, dan para peneliti berasumsi itu hanyalah spesimen Anomalocaris yang lain, ujar Diying Huang, seorang profesor di NIGPAS.

"Hewan itu tampak aneh, seperti appendages depan yang biasa dimiliki oleh Anomalocaris melekat pada tubuh arthropoda biasa," ujar Huang, salah satu penulis dari studi tersebut.

"Setelah persiapan yang cermat saya tahu hewan tersebut adalah arthropoda yang baru dan sangat penting."

Sebagian dari nilai yang dimiliki Kylinxia terletak pada detail luar biasa yang terawetkan dalam fosil.

"Fosil Kylinxia menunjukkan struktur anatomi yang sangat indah," ujar Fangchen Zhao, salah satu rekan penulis penelitian. "Misalnya, jaringan saraf, mata, dan sistem pencernaan hal ini adalah bagian tubuh lunak yang biasanya tidak dapat kita lihat pada fosil konvensional,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bumi udang fosil
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top