Es Meleleh di Alaska, Mega Tsunami Mengancam Setahun Lagi?

Ika Fatma Ramadhansari
Selasa, 20 Oktober 2020 | 10:06 WIB
Ilustrasi/Istimwewa
Ilustrasi/Istimwewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Menurut perkiraan, tsunami di Alaska yang sangat dahsyat akan datang dalam dua dekade yang dipicu cairnya gletser kemudian tanah longsor dan bebatuan yang tidak stabil.

Namun saat ini para ilmuwan khawatir hal itu bukan akan terjadi dalam dua dekade melainkan akan terjadi dalam 12 bulan mendatang dikutip dari Live Science Selasa (20/10/2020).

Sekelompok ilmuwan ini memberikan peringatan atas bencana ini di Prince William Sound dalam surat terbuka kepada Departemen Sumber Daya Alam Alaska (ADNR) pada bulan Mei.

Sementara resiko potensi longsor sangat serius, masih banyak hal yang menjadi misteri tentang bagaimana atau kapan bencana ini bisa terjadi.

Yang jelas dalam surat terbuka disebutkan retret gletser disepanjang pantai selatan Alaska, akan berdampak pada lereng gunung di atas Barry Arm, sekitar 97 km timur Anchorage.

Analisis citra satelit menunjukkan bahwa saat Barry Glacier mundur dari Barry Arm karena terus mencair, batu besar yang disebut scarp kemudian muncul di atas permukaan gunung.

Hal ini mengindikasikan tanah longsor yang bertahap dan bergerak lambat sudah terjadi di atas fjord, tetapi jika permukaan batu memberikan jalan konsekuensinya bisa mengerikan.

Walaupun terpencil, ini adalah kawasan yang sering dijunjungi oleh kapal komersial dan rekreasi, termasuk kapal pesiar.

"Berdasarkan ketinggian endapan di atas air, volume tanah yang tergelincir, dan sudut kemiringan, kami menghitung bahwa keruntuhan akan melepaskan 16 kali lebih banyak puing dan 11 kali lebih banyak energi daripada longsor dan mega di Teluk Lituya Alaska tahun 1958 (tsunami)," ungkap salah satu peneliti, ahli geofisika Chunli Dai dari Ohio State University.

Jika perhitungan para ilmuwan benar, hasil tersebut tidak pernah terpikirkan mengingat kejadian tsunami pada 1958 saja disebut-sebut tsunami tertinggi yang mencapai 524 meter dinamakan oleh saksi mata sebagai bom atom.

Sejak laporan rilis awal tahun ini, analisis longsor berikutnya menunjukkan sedikit atau tidak ada pergerakan massa tanah di lereng, walaupun hal ini tidak menungkapkan banyak karena peneliti menunjukkan bahwa permukaan batuan telah bergeser setidaknya sejak 50 tahun yang lalu di beberapa titik mempercepat dan Peringatanin memperlambat.

Sementara jenis variasi kecil ini masih diselidiki, pandangan keseluruhan adalah kecepatan gletser meningkatkan kemungkinan kegagalan lereng yang lebih dramatis.

"Jika gletser mundur dengan sangat cepat, lereng disekitarnya akan terkejut dan mungkin gagal secara serempak alih-alih menyesuaikan diri secara bertahap," ungkap rekan penulis penelitian, ahli geofisika Bretwood Higman dari organisasi nonprofit Ground Trurth Alaska.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper