Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masalah Keamanan, Platform Multi-Cloud Tawarkan Kemampuan Baru

JAKARTA - Penelitan baru dari Forrester Consulting, yang diinisiasi oleh Oracle, menekankan peran penting dari platform multi-hybrid cloud untuk mengumpulkan berbagai macam informasi yang memungkinkan dapat menganalisa wawasan dan menginformasikan keputusan kritis dalam bisnis.
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  18:36 WIB
Oracle. - Istimewa
Oracle. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Penelitan baru dari Forrester Consulting, yang diinisiasi oleh Oracle, menekankan peran penting dari platform multi-hybrid cloud untuk mengumpulkan berbagai macam informasi yang memungkinkan dapat menganalisa wawasan dan menginformasikan keputusan kritis dalam bisnis.

Tantangan bisnis saat ini adalah bahwa berbagai data dan  informasi umumnya disimpan dalam berbagai sistem termasuk cloud, sehingga sulit bagi perusahaan untuk memanfaatkannya dan  menciptakan nilai lebih.

Studi yang berjudul Moving the Needle: Manajemen Data untuk Era Multi-Hibrid TI, menjelaskan bahwa 82% dari 670 pengambil keputusan senior di bidang teknologi mengakui bahwa berinvestasi dalam strategi manajemen data yang tepat dapat menghasilkan hasil bisnis yang lebih baik.

Namun, sebanyak  73% mengakui bahwa mereka memiliki strategi data yang berbeda ataupun data yang terpisah-pisah yang membuat mereka sulit menyediakan data yang dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan bisnis.

Chung Heng, Wakil Presiden Senior, Oracle Systems, JAPAC dan EMEA mengatakan bahwa organisasi di Asia Pasifik sedang menuju kemajuan yang kuat dalam hal menyatukan sumber data dan mendapatkan nilai lebih dari keamanan data serta persyaratan tata kelola. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa fokus mereka yang kuat pada bidang-bidang tertentu ini kemungkinan membuat mereka terhambat  untuk menyadari beberapa manfaat dari multi-hybrid cloud yang mereka butuhkan saat ini, disamping menyediakan akses pada kemampuan unik mereka dalam mendukung diversifikasi.

"Faktanya, hanya sepertiga perusahaan di JAPAC yang tampaknya berfokus pada aspek manajemen data dibandingkan dengan lebih dari dua pertiga di Eropa.  Mereka perlu memahami hidup di lingkungan multi-hybrid cloud sesegera mungkin atau dapat berisiko tertinggal, " ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2020).

Seperti yang ditunjukkan dalam penelitian ini, dengan meningkatnya kompleksitas, ditambah dengan bekerja di lingkungan TI yang berbeda, 64% responden bergulat dengan tantangan mengelola infrastruktur multi-hybrid. Jadi tidak mengherankan apabila 70% organisasi menganggap perlunya menyederhanakan proses TI mereka sebagai prioritas utama.

Satu masalah yang disoroti oleh penelitian ini adalah bahwa kekhawatiran dan fokus di sekitar keamanan data dan tata kelola data telah membatasi bisnis untuk memperoleh manfaat utama. Menurut penelitian, adopsi hosting data multi-cloud didorong oleh kebutuhan untuk diversifikasi serta akses ke dalam kemampuan unik – yaitu 6 dari 10 responden menyebutkan “mengakses teknologi atau kemampuan spesifik” sebagai driver/pendorong untuk strategi multi-cloud mereka.

Namun, meskipun 83% dari perusahaan percaya bahwa persyaratan keamanan data adalah prioritas tinggi atau kritis, ketika mereka maju di sepanjang peta jalan manajemen data mereka, setengah dari responden mengatakan mereka saat ini tidak memiliki kemampuan memadai untuk memastikan perlindungan data dan mematuhi peraturan keamanan.

Dengan adanya tantangan ini, studi ini merekomendasikan agar organisasi mencari mitra teknologi mereka untuk menyediakan platform data terpadu yang akan memberikan visibilitas pada setiap lini di seluruh lingkungan hybrid mereka, bersamaan dengan fondasi keamanan yang cukup dan juga fleksibilitas untuk memenuhi kompleksitas data saat ini dan di masa depan.

Temuan Utama

  • 82% menginginkan strategi data mereka agar mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan dan pengalaman pelanggan yang lebih baik.
  • 73% dari organisasi melaporkan strategi data yang berbeda dan data terpisah (siloed) yang menghentikan mereka dari mencapai tujuan ini.
  • 36% dari data masih disimpan di tempat, 19% disimpan pada cloud publik dan 18% di cloud pribadi.
  • Sifat data yang dikumpulkan oleh organisasi-organisasi ini telah banyak berubah - dengan 31% bersifat tabular / terstruktur dan sisanya merupakan data non-tabular / semi terstruktur atau tidak terstruktur. Yang terakhir adalah 18% data teks dan sisanya didistribusikan secara merata di seluruh gambar / video, data yang dihasilkan mesin, data streaming, dan lainnya.
  • Sektor publik dan ritel menunjukkan kematangan strategi data yang rendah: 34% sektor publik dan organisasi layanan kesehatan memiliki strategi data yang tidak lengkap.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

platform
Editor : Surya Mahendra Saputra
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top