Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pendapatan Alibaba Terdampak Ketidakpastian Ekonomi dan Tensi AS - China

Pada Jumat (22/5/2020) lalu, petinggi Alibaba berusaha untuk meredakan kekhawatiran perihal keputusan otoritas Amerika Serikat yang berencana akan melarang perusahaan China terdaftar dalam bursa di Amerika Serikat.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Mei 2020  |  17:44 WIB
Alibaba Group - Reuters
Alibaba Group - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Alibaba Group Holding Ltd. diproyeksikan mengalami pertumbuhan terendah pada 2020 yang tercermin dari ketidakpastian ekonomi akibat penyebaran virus corona (Covid-19) dan hubungan Amerika Serikat dan China yang semakin merenggang

Raksasa e-commerce tersebut mengestimasikan pertumbuhan pendapatan 27,5 persen, dengan nilai kisaran 650 miliar yuan. Target tersebut turun 35 persen dibawah estimasi para analis, dan tercatat sebagai laju ekspansi terkecil sepanjang sejarah perusahaan.

Berdasarkan Bloomberg, petinggi Alibaba menyebutkan kinerja keuangan dari divisi belanja daring mulai meningkat pada bulan Maret, namun konsumen tampaknya masih ragu-ragu dalam membelanjakan barang-barang mahal.

Di sisi lain, Alibaba juga bertarung dengan lawan terbesarnya ByteDance Ltd. dan Pinduoduo Inc., serta operator Tmall Tencent Holding Ltd. yang menyediakan variasi layanan mulai dari media online, pembayaran hingga cloud computing.

Alibaba kehilangan lebih dari US$40 miliar nilai kapitalisasi pasarnya sejak wabah Covid-19 meledak untuk pertama kalinya pada bulan Januari.
Kali ini, perusahaan rintisan Jack Ma tersebut tidak hanya berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi namun juga potensi dampak dari ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat dan China.

Pada Jumat (22/5/2020) lalu, petinggi Alibaba berusaha untuk meredakan kekhawatiran perihal keputusan otoritas Amerika Serikat yang berencana akan melarang perusahaan China terdaftar dalam bursa di Amerika Serikat.

"Kami akan berusaha untuk mematuhi setiap undang-undang yang tujuannya adalah untuk melindungi dan membawa transparansi kepada investor yang membeli ekuitas di bursa saham Amerika Serikat,” ujar Chief Financial Officer Alibaba Group Maggie Wu.

Untuk diketahui, laba bersih Alibaba turun 88 persen menjadi 3,2 miliar yuan dibandingkan periode kuartal pertama tahun lalu. Pada Februari, Alibaba menyatakan aturan meniadakan beberapa biaya layanan untuk membantu pedagang di platform Tmall-nya.

Pada April, Alibaba juga meluncurkan program subsidi 10 miliar yuan bagi pengguna Tmall untuk membeli barang elektronik, tidak terbatas pada JD.com Inc. Lebih lanjut, Inisiatif-inisiatif lain diperkirakan akan menekan margin untuk kuartal yang berakhir Juni tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat Virus Corona alibaba
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top