Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kebut Penerapan IoT, Perusahaan Harus Perhatikan Hal Ini

Perusahaan dan instansi pemerintahan yang menerapkan teknologi internet untuk segala (internet of things/IoT) harus memperhatikan dampak sosio-ekonomi yang ditimbulkan, berikut dengan antisipasinya.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  20:29 WIB
Ilustrasi Internet of things
Ilustrasi Internet of things

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan swasta dan instansi pemerintahan dinilai harus melakukan pengkajian dari berbagai sisi jika ingin menerapkan pemanfaatan perangkat internet untuk segala (internet of things/IoT) di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jamalul Izza menilai manajemen  setiap perusahaan/instansi harus melakukan pengkajian atas penerapan perangkat pintar dari berbagai segi, baik itu dari segi efektivitas implementasi maupun dampak sosio-ekonomi yang ditimbulkan.

"Jika dilihat dari sisi teknologi, saat ini sudah cukup banyak perangkat IoT dengan harga terjangkau yang tersedia di pasar lokal, sehingga pertimbangannya saat ini lebih kepada dampak sosio-ekonomi. Ini yang menjadi tantangan kita, yakni bagaimana mengalihkan tenaga kerja yang tergantikan oleh perangkat pintar," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (13/5/2020).

Menurutnya, baik perusahaan maupun instansi pemerintah harus segera memikirkan kebijakan transisi dengan mempertimbangkan manfaat dan mudarat yang dapat ditimbulkan oleh penerapan teknologi IoT.

Pasalnya, lanjut Jamalul, kompetisi yang terus berlangsung dan efektivitas penerapan teknologi dinilai akan meniscayakan penggunaan perangkat pintar di Indonesia.

"Jika penerapan perangkat pintar ini sudah dapat dilihat lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya, maka penerapan secara luas pasti bisa dilakukan," katanya.

Berdasarkan laporan McKinsey & Company bertajuk Automation and the Future of Work in Indonesia 2019, penerapan teknologi IoT berpotensi menambah US$135 miliar setiap tahun ke dalam produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2025.

Namun, laporan yang sama mengungkapkan sebanyak 23 juta lapangan pekerjaan akan hilang pada 2030 karena tergantikan oleh peran perangkat robotik tersebut.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menambahkan mayoritas perusahaan dan instansi di Indonesia tengah dalam posisi wait and see dalam hal penerapan perangkat IoT akibat masih merebaknya pandemi virus corona.

Menurutnya, pandemi Covid-19 memengaruhi proses adopsi teknologi tersebut yang sudah mulai dilakukan uji coba untuk beberapa use case dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari otomatisasi, remote activity, smart city, hingga smart home.

"Kalau corona cepat tuntas, IoT juga akan kembali bergeliat. Selain itu, seiring dengan kian luasnya adopsi 5G, maka IOT juga akan berkembang pesat," kata Heru kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi informasi Internet of Things
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top