Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengintip Peluang Bisnis Fintech Remitansi

Besarnya jumlah pekerja migran di Indonesia, membuat bisnis di sektor remitansi dinilai menjanjikan, termasuk bagi perusahaan fintech.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  23:18 WIB
Antrean TKI di Bandara - Bisnis
Antrean TKI di Bandara - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek bisnis teknologi finansial (tekfin/fintech) sektor remitansi di Tanah Air dinilai sangat menjanjikan.

Menurut Head of Crowdfunding Working Group AFTech Edward Ismawan Chamdani, hal tersebut dimungkinkan karena nilai transaksi remitansi di Tanah Air tercatat cukup tinggi. Berdasarkan data Bank Indonesia, ujar Edward, nilai transaksi remitansi hanya dari tenaga kerja Indonesia (TKI) di setiap kuartal hampir mendekati US$3 miliar.

"Kebutuhan pasar sudah pasti sangat besar sesuai dengan data BI tersebut," ujar Edward kepada Bisnis, Selasa (11/2/2020).

Adapun, keberlangsungan bisnis fintech remitansi di Indonesia dilandasi oleh 3 aspek; pertama, adanya aspek penerapan prinsip anti pencucian uang; kedua, aspek manajemen likuiditas; ketiga, aspek ketersediaan outlet, baik di tempat pengiriman maupun tujuan.

Ke depannya, lanjut Edward, fintech remitansi dinilai harus mengintegrasikan teknologinya dengan layanan digital banking serta aplikasi pembayaran di masing-masing negara tujuan atau pun sebaliknya.

"Pada waktunya, integrasi ke digital merupakan kemudahan yang tidak bisa ditahan sesuai dengan makin kuatnya literasi pengguna digital," sambungnya.

CEO Transfez Edo Windratno, mengatakan permintaan pasar fintech remitansi di Tanah Air cukup tinggi. Pasalnya, kata Edo, sebanyak miliaran dolar AS keluar-masuk dari dan ke Indonesia dari transaksi sektor remitansi. Adapun Transfez meruapakan salah satu fintech remitansi Indonesia.

"Berdasarkan data World Bank satu tahun terakhir, sebanyak US$1 miliar keluar dari Indonesia, dan sebanyak US$11 miliar masuk ke dalam negeri. Sehingga kalau kita bicara potensi market, tentunya masih terbuka lebar," ujar Edo kepada Bisnis (11/2/2020).

Adapun, fintech remitansi menawarkan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan lembaga keuangan penyedia jasa pengiriman remitansi konvensional. Dia mengatakan jasa keuangan remitansi rata-rata bisa menghabiskan waktu pemrosesan hingga 2 jam, pengiriman hingga 2 hari, dan menghabiskan uang hingga Rp400.000 dalam sekali pengiriman.

Sementara fintech remitansi, dikatakan dapat menawarkan pemrosesan lebih cepat dengan waktu sekitar 5-10 menit. Adapun, lanjut Edo, layanan yang ditawarkan oleh Transfez saat ini dikatakan dapat memroses layanan remitansi dengan kisaran waktu 5-10 menit di beberapa negara, di antaranya Inggris, India, Korea Selatan, Nepal, dan Vietnam.

"Dengan pelayanan seperti itu, cost-nya lebih murah. Untuk remitansi ke Malaysia, 1 kali transaksi dikenakan biaya Rp45.000, ke Inggris Rp75.000, dan ke China Rp100.000," sambung Edo.

Sebagai informasi, layanan remitansi Tranfez saat ini sudah dapat dimanfaatkan untuk pengiriman uang ke sebanyak 37 negara. Layanan tersebut juga berada di bawah pengawasan BI dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Terbuka lebarnya peluang bisnis fintech remitansi di Tanah Air juga disebabkan oleh masih minimnya pelaku usaha di sektor tersebut. Selain Transfez, Top Remit merupakan fintech remitansi lain yang sudah mengantongi izin dari Bank Indonesia

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

remitansi fintech
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top