Ini Penyebab Tingkat Pengembalian Investasi Startup RI Rendah

Ekosistem perusahaan rintisan Tanah Air yang masih dalam tahap pertumbuhan, membuat likuiditas pengembalian investasi cenderung rendah.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  21:42 WIB
Ini Penyebab Tingkat Pengembalian Investasi Startup RI Rendah
CES Asia 2017. - cesasia

Bisnis.com, JAKARTA - Likuiditas pengembalian investasi dari perusahaan-perusahaan rintisan Indonesia yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai investasi yang disalurkan di sepanjang 2014-2019.

Berdasarkan laporan Cento Ventures berjudul Southeast Asia Tech Investment in 2019, total dana yang diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan rintisan di Indonesia sepanjang 2014-2019 mencapai US$9,4 miliar, sedangkan likuiditas pengembalian investasi yang diperoleh US$1,2 miliar.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan hal tersebut terjadi karena ekosistem perusahaan rintisan Tanah Air yang masih dalam tahap pertumbuhan.

"Sehingga cash value yang diterima oleh para investor belum mature," ujarnya kepada Bisnis, Senin (10/2/2020).

Kondisi tersebut juga dinilai oleh Edward menjadi faktor yang membuat likuiditas pengembalian investasi lebih sedikit dibandingkan dengan Malaysia.

Edward mengatakan besarnya likuiditas pengembalian investasi negeri jiran tersebut, tidak lepas dari adanya investasi dengan nilai lebih dari US$100 juta, salah satunya diraup oleh iProperty Group yang dikatakan telah melantai di bursa efek Australia.

Sementara itu, lanjutnya, tren pendanaan dengan nilai investasi di atas US$100 juta diperkirakan baru akan marak terjadi di Indonesia pada tahun ini. Perusahaan-perusahaan rintisan di sektor teknologi finansial, edukasi, dan kesehatan dikatakan akan menjadi sektor yang bakal memeroleh raupan besar tersebut.

Pasalnya, perusahaan-perusahaan rintisan di ketiga sektor tersebut dikatakan sedang berada di dalam perjalanan menuju status unikorn atau memiliki valuasi di atas US$10 miliar.

Selain itu, Edward meyakini dalam tiga tahun ke depan tingkat likuditas tersebut di Tanah Air akan mengalami pelonjakan, terutama jika perusahaan rintisan besar seperti Tokopedia sudah melakukan aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

"Kalau perusahaan-perusahaan rintisan besar tersebut IPO, maka semua pemegang saham perusahaan menarik likuiditas karena produk sudah diperjualbelikan di bursa," ujarnya.

Namun demikian, beberapa kasus kegagalan seperti yang dialami WeWork dinilai memberikan tekanan kepada para investor. Kasus tersebut, kata Edward, membuat para investor enggan menanamkan modalnya hanya dengan tujuan 'bakar uang'.

Sisi positifnya, kondisi tersebut akan memunculkan sinergi antara pemangku kepentingan di ekosistem perusahaan rintisan, di mana kreatifitas serta kolaborasi untuk membangun value chain dalam berinvestasi akan terbentuk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, investasi startup

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top