Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengintip Layar Sentuh Ultratipis nan Murah

Peneliti dari Universitas Monash, Universitas New South Wales, dan ARC Centre for Excellence in Future of Low-Energy Electronics Technologies, baru saja mengembangkan bahan ultratipis dan ultralentur, sehingga lebih cocok untuk digunakan di lebih banyak peranti.
Gombang Nan Cengka
Gombang Nan Cengka - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  09:49 WIB
 Layar sentuh fleksibel. RMIT University
Layar sentuh fleksibel. RMIT University

Bisnis.com, JAKARTA--Layar sentuh pada saat ini sudah dapat ditemukan di mana-mana, tidak hanya di ponsel pintar atau komputer tablet, tetapi juga di peralatan lain seperti ATM dan peralatan kesehatan.

Namun teknologi layar sentuh yang lazim digunakan saat ini masih punya kekurangan. Pertama, layar sentuh yang ada masih kaku dan getas, sehingga lebih susah dimanfaatkan pada peranti jenis baru yang menuntut kelenturan seperti peranti sandangan.  Kedua, proses pembuatannya relatif lama dan mahal.

Para peneliti dari Universitas RMIT Australia, bekerja sama dengan peneliti dari Universitas Monash, Universitas New South Wales, dan ARC Centre for Excellence in Future of Low-Energy Electronics Technologies, baru-baru ini telah mengembangkan bahan ultratipis dan ultralentur, sehingga lebih cocok untuk digunakan di lebih banyak peranti.

Ketebalannya disebutkan 100 kali lebih tipis dibandingkan layar sentuh yang ada saat ini. Selain tipis dan lentur, bahan baru temuan para peneliti Australia tersebut juga disebut lebih mudah diproduksi. Bahan layar sentuh ini bisa dibuat dengan dicetak dan digulung seperti surat kabar.

Bahan baru ini juga disebut lebih transparan dibandingkan pendahulunya, dan karena itu tidak memerlukan cahaya terlalu terang bila digunakan pada layar sentuh. Hal ini bisa menghemat daya listrik, dan memperpanjang daya tahan baterai sampai 10 persen.

Untuk menciptakan bahan baru ini, para peneliti memodifikasi indium-timah oksida, yang sebelumnya juga sudah digunakan untuk layar sentuh konvensional.

Para peneliti memanaskan logam campuran indium-timah, yang kemudian dicetak untuk menciptakan lembaran nano indium-timah oksida. Lembaran ini memiliki sifat kimia yang sama dengan indium-timah oksida standar, namun memiliki struktur kristal berbeda, yaitu kristal dua dimensi.

Hasilnya adalah lembaran yang lebih tipis, namun lebih transparan (hanya menyerap 0,7 persen cahaya, dibandingkan lembaran indium-timah oksida biasa yang menyerap 5-10 persen cahaya).

Torben Daeneke, salah satu anggota tim peneliti, menyebutkan bahwa proses pembuatan lembaran bahan untuk layar sentuh ini sangat murah dan terjangkau. Seperti dikutip disitus web resmi RMIT, Daeneke menuturkan bahwa bahan tersebut bisa diciptakan menggunakan peralatan yang tersedia di toko-toko. Tidak perlu peralatan khusus dan terspesialisasi yang mahal.

Selain dapat digunakan untuk layar sentuh ponsel, bahan indium-timah oksida ini juga berpotensi untuk dipakai pada berbagai peralatan lain, seperti LED (light emitting diode), sel surya, dan jendela pintar.

Laporan dari tim peneliti RMIT ini telah diterbitkan di jurnal Nature Electronics tanggal 24 Januari 2020 lalu, dengan judul Liquid Metal Derived Ultrathin, Highly Flexible Printed Two-dimensional ITO.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komputer teknologi ponsel pintar tablet layar digital
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top