Startup Healthtech RI Siap Melesat, Ini Pertimbangannya

Di Indonesia perbandingan antara dokter dan populasi hanya tiga dokter per 10.000 populasi.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 09 Januari 2020  |  09:12 WIB
Startup Healthtech RI Siap Melesat, Ini Pertimbangannya
Warga berjalan di lobi kantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Jakarta Timur, di Jakarta, Rabu (30/10/2019). - ANTARA FOTO/M. Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Tahun 2019 menjadi preseden baik bagi masa depan perusahaan rintisan asal Indonesia yang bergerak di bidang kesehatan berbasis teknologi atau healthtech.

Laporan Galen Growth berjudul Asia PAC Healthtech Investment Landscape mengungkapkan bahwa dua perusahaan rintisan Tanah Air, yakni Halodoc dan Alodokter, meraup total investasi senilai US$122 juta. Halodoc meraup pendanaan US$89 juta dan Alodokter US$33 juta.

Tahun lalu Halodoc memperoleh investasi tambahan dari sejumlah investor strategis, yakni yayasan swasta yang didirikan oleh Bill Gates dan istrinya, Bill & Melinda Gates Foundation, Allianz X, Prudential.

Sementara itu, Alodokter pada Oktober 2019 meraup US$33 juta atau sekitar Rp468 miliar melalui pendanaan Seri C yang dipimpin oleh Sequis Life, dengan partisipasi dari Philips, Heritas Capital Management, Hera Capital, Dayli Partners Korea, Golden Gate Ventures, dan Softbank.

Adapun, nilai investasi yang diraup oleh perusahaan rintisan healthtech asal Indonesia jauh di atas tiga perusahaan serupa asal Singapura yang meraup total meraup pendanaan US$89 juta.

CEO Halodoc Jonathan Sudharta mengatakan bahwa besarnya nilai investasi yang digelontorkan tidak terlepas dari problematiknya ekosistem perusahaan rintisan healthtech karena perbandingan antara dokter dan pasien masih rendah dan tren tersebut diyakini akan berlanjut tahun ini.

"Di Indonesia perbandingan antara dokter dan populasi hanya tiga dokter per 10.000 populasi. Jauh jika dibandingkan dengan Singapura dengan 28 dokter per 10.000 populasi. Jadi, enggak heran kalau Indonesia jadi fokus utama para investor," ujar Jonathan kepada Bisnis, Rabu (8/1/2020).

Sementara itu, peningkatan anggaran belanja pemerintah dalam RAPBN 2020 untuk sektor kesehatan menjadi Rp48,8 triliun, naik hampir dua kali lipat dibandingkan 2018 senilai Rp 26,7 triliun, dianggap membuka kesempatan yang lebih besar bagi perusahaan rintisan healthtech di Indonesia tahun ini.

"Didukung oleh pemerintahan yang lebih stabil serta perekonomian yang membaik, maka tren tersebut akan terus berlangsung," tambahnya.

Bendahara Amvesindo Edward Ismawan Chamdani optimistis tren investasi di sektor perusahaan rintisan healthtech di Tanah Air masih akan berlanjut tahun ini.

Dia menilai bahwa gap yang terbentang di sisi konsumen, baik korporasi maupun individu, menjadi pemicunya.

"Sebagai contoh, beberapa startup healthtech memberi solusi bagi karyawan korporasi untuk dilayani lebih efisien dan mudah dengan subscribe ke mereka, sedangkan korporasi diberikan benefit transparansi dan data sehingga pihak asuransi bisa memberikan fasilitas premi yang lebih baik. Benefit mutualisme ekosistem ini yang membuat layanan mereka makin diminati dan scalable," ujar Edward kepada Bisnis.

Ditambah lagi, lanjut Edward, dengan belum tercakupnya seluruh populasi masyarakat Indonesia oleh layanan kesehatan berbasis digital yang merata, maka kekosongan tersebut menjadi peluang bagi perusahaan rintisan di bidang healthtech untuk mengisi ukuran pasar di Indonesia yang besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelayanan kesehatan, StartUp

Editor : Zufrizal
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top