Upaya Memajukan Startup Indonesia, Akses Internet Lebih Penting Daripada 5G

Perusahaan rintisan  menilai kehadiran cakupan internet yang luas dan merata lebih dibutuhkan dibandingankan dengan teknologi generasi ke lima atau 5G.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 18 November 2019  |  19:18 WIB
Upaya Memajukan Startup Indonesia, Akses Internet Lebih Penting Daripada 5G
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan rintisan  menilai kehadiran cakupan internet yang luas dan merata lebih dibutuhkan dibandingankan dengan teknologi generasi ke lima atau 5G.

Fonder & CEO Botika, Ditto Anindita mengatakan bahwa jangkauan internet yang luas dan merata yang dibangun oleh operator sangat membantu dalam pengembangan bisnis Botika.

Botika merupakan sebuah perusahaan rintisan atau startup yang fokus pada sektor korporasi. Botika menawarkan robot percakapan yang dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh para pelanggan kepada korporasi.

“Karena Botika menyediakan chatbot yang membantu customer service yang datang dari chat, maka tanpa adanya layanan internet, pelanggan lebih susah dilayani dengan cepat dan efisien karena kanal yang bisa digunakan jadi hanya panggilan telpon atau datang ke kantor layanan terdekat,” kata Ditto kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Adapun untuk teknologi 5G, kata Ditto, dibutuhkan untuk pengembangan layanan Botika di bidang speaker cerdas dan Internet of Things, karena kecepatan dan pita lebar yang bisa digunakan. 

Dengan adanya internet cepat 5G, maka pertukaran data yang besar seperti audio dan video menjadi lebih cepat.

Co-Founder & CEO CAKAP, Tomy Yunus mengatakan bahwa kecepatan internet yang ada saat ini, sudah cukup dalam mendukung aktivitas kegiatan belajar mengajar melalui aplikasi. 

Bahkan dengan kecepatan 2 Mbps yang didapat dari Palapa Ring, proses pemanggilan video atau video call berjalan lancar.   

Adapun yang dibutuhkan saat ini, katanya, untuk memperluas pangsa pasar bisnis CAKAP adalah cakupan internet.  

Cakap merupakan perusahaan rintisan pengembang aplikasi belajar online bahasa asing, Cakap menggunakan metode Grammar Translation, Audio-Lingual dan Direct Tutoring dalam memberikan materi kepada para pesertanya.

“Makin luas maka cakupan marketnya makin bagus tetapi untuk speednya sudah cukup jadi tidak butuh sampai 5G,” kata Tomy.

Meskipun beberapa perusahaan rintisan membutuhkan cakupan yang luas, sayangnya kondisi saat ini yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya.

OpenSignal, sebuah perusahaan swasta yang mengkhususkan diri dalam pemetaan cakupan nirkabel, menyampaikan bahwa wilayah pedesaan di Indonesia belum terlalu banyak tersentuh jaringan 4G.

Operator cenderung mengincar pembangunan jaringan di daerah dengan penduduk padat karena menguntungkan secara komersial. Tren tebang pilih bangun jaringan, juga terjadi di negara tetangga seperti di Filipina dan Malaysia.

Peneliti OpenSignal, Hardik Khatri mengatakan bahwa meskipun sejumlah pihak mengklaim jaringan 4G telah berada hampir di seluruh Indonesia, namun faktanya ada kesenjangan konektivitas antara daerah pedesaan yang jarang penduduk dibandingkan dengan perkotaan yang padat penduduk.

OpenSignal menggunakan data sensus dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia untuk mengklasifikasikan kabupaten dan kota ke dalam lima kategori berbeda berdasarkan populasi di kota/kabupaten tersebut. Kategori pertama yaitu 1—50 orang per km2,  kategori kedua 50—100 orang per km2, kategori ketiga, 100 hingga 300 orang per km2, kategori keempat 300—1.000 orang per km2, dan kategori lebih dari 1.000 orang per km2.

“Kami menemukan bahwa sebanyak 89,7% pengguna kami di daerah berpenduduk padat kategori 5 dapat terhubung ke layanan 4G, di daerah berpenduduk paling jarang atau kategori 1 yang dapat menikmati sinyal 4G hanya 76%, terdapat selisih 13 poin persentase,” kata Khatiri dalam laporan yang diterima oleh Bisnis.

Adapun ketika OpenSignal memeriksa waktu yang dihabiskan pengguna yang terhubung ke semua jaringan data seluler, yaitu layanan 3G dan 4G, perbedaan ini berkurang.

Untuk daerah dengan kepadatan penduduk rendah ketersediaan 3G/4G persentasenya naik 10 poin  menjadi 86%, adapun untuk daerah dengan penduduk padat meningkat menjadi 96,3%.

Khatiri mengatakan untuk menutup celah ini, tidak hanya bergantung pada peralatan teknis yang dibangun oleh operator, namun juga kondisi ekonomi.

Dia mengatakan bahwa daerah padat penduduk memiliki jaringan yang lebih bagus karena menguntungkan secara komersial bagi operator, sehingga mereka berlomba untuk menggunakan dan meningkatkan jaringan di daerah perkotaan yang padat terlebih dahulu.

Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia, Danny Buldansyah mengatakan bahwa dalam membangun jaringan di suatu daerah, 3 Indonesia melihat kebutuhan pembangunan dan keuntungan yang dapat diraup.

3 Indonesia tidak membagi pembangunan jaringan berdasarkan daerah, melainkan berdasarkan jumlah kabupaten.

“Kami kan juga tidak mungkin bisa menyediakan cakupan kami tetapi tidak menguntungkan, namun secara garis besar masih menguntungkan meskipun ada site yang rugi, kami tidak ada masalah,” kata Danny.     

Adapun mengenai kebutuhan data untuk perusahaan rintisan, kata Danny, jaringan 3G sudah cukup baik untuk perusahaan rintisan. Dengan modal tersebut, perusahaan rintisan dapat menjalankan usahanya.

Dia mengatakan sekitar 90% jaringan yang dibangun oleh 3 Indonesia saat ini sudah menggunakan teknologi 3G/4G. Pada 2019, 3 Indonesia berencana menambah 8.000 BTS, hingga September 2019, jumlah BTS yang telah terbangun sebanyak 5.000 BTS.

Dalam membangun BTS, 3 Indonesia berfokus pada 50% untuk penguatan kualitas jaringan dan 50% untuk ekspansi jaringan.  

“Data itukan tidak harus 3G, tetapi juga bisa 4G, jadi kalau perusahaan butuh data tidak harus 4G, 3G juga bisa,” kata Danny.

Deputy CEO PT Smartfren Telecom Tbk. Djoko Tata Ibrahim mengatakan dalam mengggelar jaringan di suatu daerah, perseroan mengutamakan kesinambungan. Smartfren berusaha menghadirkan jaringan yang utuh agar tidak terjadi kekosongan jaringan atau blank spot di daerah yang mereka bangun.

Adapun mengenai pembangunan BTS yang berpusat pada daerah padat saja, kata Djoko, disebabkan karena kebutuhan jaringan di daerah padat penduduk tinggi.

“Kalau makin padat daerah makin banyak BTS 4G nya, karena setiap BTS memiliki kapasitasnya masing-masing,” kata Djoko.  

Smartfren menargetkan pembangunan BTS sebanyak 5.000 BTS pada 2019. Pada 2018, jumlah BTS Smartfren sebanyak 25.000 BTS 4G.  Adapun jumlah pelanggan Smartfren pada periode Januari–September 2019 sebesar 22 juta pelanggan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, jaringan internet

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top