Jaga Loyalitas Pelanggan, Smartfren Pacu Penggelaran Jaringan di Areal Singgah

PT Smarfren Telecom Tbk. terus membangun pembangunan jaringan telekomunikasi di sejumlah tempat singgah demi menjaga loyalitas pelanggan, meskipun terbilang mahal.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 16 September 2019  |  13:39 WIB
Jaga Loyalitas Pelanggan, Smartfren Pacu Penggelaran Jaringan di Areal Singgah
PT Smartfren Telecom Tbk. melakukan uji coba jaringan di terowongan MRT Jakarta Istora Mandiri. Selasa (9/4 - 2019). Hasilnya, untuk kecepatan unduh mencapai 63,72 Mbps dan untuk unggah mencapai 4,88 Mbps.

Bisnis.com, JAKARTA — PT Smarfren Telecom Tbk. terus membangun pembangunan jaringan telekomunikasi di sejumlah tempat singgah demi menjaga loyalitas pelanggan, meskipun terbilang mahal.

Deputy CEO Smartfren, Djoko Tata Ibrahim mengaku bahwa investasi membangun jaringan di sejumlah tempat singgah seperti Bandara, Stasiun Kereta, Stasiun Mass Rapid Transit (MRT), jalan tol dan lain-lain membutuhkan biaya besar, tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Hanya saja, Djoko tidak menyebutkan nilainya.

Djoko menuturkan pembangunan jaringan di sejumlah tempat singgah lebih mengarah pada upaya operator dalam melayani pelanggan dan menjaga loyalitas mereka.

Adapun hingga saat ini, menurut Djoko, investasi sewa jaringan infrastruktur pasif di terowongan MRT  masih yang termahal, hanya saja dia tidak menyebutkan biaya.

Diketahui PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. menyediakan antena In Buiilding Solution (IBS) di 408 titik di sepanjang jalur yang dilalui oleh MRT atau sepanjang 15,6 km. 

Di sepanjang rel tersebut terdapat antena repeater sepanjang 24,9 km, 8 ruang BTS, dan backhaul ke serat optik masing-masing calon penyewa. Kapasitas yang disediakan meliputi 74 sektor.

“Memang investasi tinggi, tetapi itu bagian dari tanggung jawab operator untuk memberikan layanan dimanapun mereka berada jangan sampai mereka menghadapi blank sinyal,” kata Djoko kepada Bisnis.com, baru-baru ini. 

Djoko berpendapat mahalnya biaya sewa infrastruktur telekomunikasi pasif di jalur MRT, disebabkan oleh besarnya biaya investasi yang digelontorkan oleh pihak MRT.

Djoko menambahkan selain MRT, Smartfren juga berusaha memberikan konektivitas kepada para pelanggannya di sejumlah tempat singgah lainnya seperti Bandara, tempat hiburan dan gedung-gedung pusat perbelanjaan. Djoko mengklaim sinyal Smartfren hampir mencangkup seluruh tempat singgah.   

“Bandara saja hampir sebagian besar, apakah secara maksimal atau tidak itu, soal kedua. Tidak harus kami adakan [jaringan] dari dalam gedung, beberapa cukup dari ditembak dari luar,” kata Djoko.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smartfren

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top