Sebelum Bangun Jaringan di Kawasan Padat, Ini yang Dilakukan XL Axiata

Opensignal, sebuah perusahaan swasta yang fokus dalam pemenaan cakupan nirkabel, mengungkapkan berdasarkan 44 kota yang telah diteliti, ditemukan bahwa kecepatan internet di kota-kota pada penduduk khususnya di Pulau Jawa lebih lambat dibandingkan dengan provinsi lain di luar Jawa.
Leo Dwi Jatmiko | 10 Mei 2019 01:32 WIB
Teknisi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) melakukan pemeliharaan perangkat pada menara Base Transceiver Station (BTS) di kawasan Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (15/4/2019). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -  Opensignal, sebuah perusahaan swasta yang fokus dalam pemenaan cakupan nirkabel,  mengungkapkan berdasarkan 44 kota yang telah diteliti, ditemukan bahwa kecepatan internet di kota-kota pada penduduk khususnya di Pulau Jawa lebih lambat dibandingkan dengan provinsi lain di luar Jawa.

 Hal itu disebabkan oleh tingginya permintaan pelanggan yang tidak diimbangi dengan pembangunan kapasitas oleh operator seluler dan persaingan yang ketat.

Menanggapi hal tersebut, CEO PT XL Axiata Tbk., Dian Siswarini mengatakan dalam membangun jaringan di perkotaan atau kawasan padat penduduk, perseroan menggunakan teknologi dan perhitungan data trafik yang matang untuk menentukan solusi yang dibutuhkan saat membangun jaringan.

Dian juga mengatakan bahwa pembangunan jaringan di pulau Jawa, yang nobatene memiliki penduduk paling banyak, saat ini difokuskan  pada perbaikan kapasitas jaringan radio dan fiberisasi jaringan 4G. Sedangkan di luar Jawa berfokus pada pengembangan jangkauan.

 “Kami menggunakan data trafik yang sangat granular untuk menentukan solusi apa yang akan digunakan untuk keperluan jaringan di indoor, area publik yang padat, daerah perumahan, atau jalan raya,” kata Dian kepada Bisnis, Kamis (9/5/2019).

Sejauh ini Pulau Jawa masih menjadi basis pelanggan XL Axiata. Perseroan, lanjutnya, terus berkomitmen untuk membangun jaringan di Pulau Jawa.

Dalam membangun jaringan di kota padat penduduk, akses dan penerapan tarif yang terlalu tinggi untuk pemasangan Base Tranceiver Station menjadi tantangan bagi XL Axiata.

Dia mengatakan untuk menghadapi hal tersebut, umumnya perseroan mengedepankan unsur komunikasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, disamping memanfaatkan teknologi terbaru.

“Secara nonteknis, dialog dengan pemilik gedung, dialog dengan pengelola area publik, dialog dengan Pemda, dan dilakukan dengan intensif bersama-sama dengan operator lainnya,” kata Dian.    

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
xl axiata, operator telekomunikasi

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup