Kinerja Industri Game Tanah Air Tahun Ini Diyakini Tetap Positif

Kinerja industri game Tanah Air diyakini tetap tumbuh positif tahun ini kendati dibayang-bayangi polemik mengenai game berkonten kekerasan yang akan diperketat pengawasannya.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  18:28 WIB
Kinerja Industri Game Tanah Air Tahun Ini Diyakini Tetap Positif
Indonesia telah memiliki aturan mengenai pembatasan umur untuk game. - playstation.com

Bisnis.com, JAKARTA—Kinerja industri game Tanah Air diyakini tetap tumbuh positif tahun ini kendati dibayang-bayangi polemik mengenai game berkonten kekerasan yang akan diperketat pengawasannya.

Ketua Harian Asosiasi Game Indonesia Jan Faris Majd menyatakan rata-rata pertumbuhan industri game nasional berkisar 20% hingga 30% per tahun. Jan menyebutkan pada 2017 omzet industri game nasional berada di kisaran US$800 juta, dan tumbuh menjadi US$1,13 miliar pada 2018.

“Polemik yang terjadi di Indonesia tidak akan menghambat revenue karena itu adalah dua masalah yang berbeda. Akibatnya mungkin di genre tertentu game akan terkurang, tapi tipikal gamers kita akan shifting ke game yang lain,” ujar Jan, Jumat (29/3/2019).

Jan menilai pertumbuhan tersebut masih akan berlanjut tahun ini. Hal itu didorong oleh tingkat adopsi smartphone di Indonesia yang cukup pesat sehingga mendorong perkembangan industri game mobile. 

Data yang dipublikasikan Hootsuite pada Januari 2019 menyebutkan jumlah pengguna perangkat mobile di Indonesia mencapai 355,5 juta, atau 133% dari populasi sebesar 268,2 juta.

Jan menyatakan bahwa penjualan game nasional pada tahun ini masih akan didominasi oleh mobile, diikuti game console dan PC.

Menurutnya, industri game mobile kian kompetitif dan persaingannya cukup berat mengingat game mobile terpopuler saat ini seperti Mobile Legend dan Player’s Unknown Battle Ground (PUBG) merupakan produksi pengembang game internasional.

Sementara, pasar game PC di Tanah Air dinilai belum sematang Amerika Serikat dan Eropa yang telah terbiasa membeli game premium. 

Sejauh ini Jan mendata setidaknya terdapat 40 pengembang game studio yang tergabung dalam asosiasi.

Berdasarkan data 2018 Games Market Report yang dipublikasikan Newzoo mencatat bahwa Asia Pasifik merupakan pasar terbesar game dunia.

Kawasan ini menyumbang 52 persen dari total omzet produsen game dunia pada tahun lalu, atau senilai US$71,4 miliar.

Posisi selanjutnya ditempati Amerika Utara yang menyumbang 23 persen atau senilair US$32,7 miliar, serta kawasan Eropa, Timur Tengah dan Afrika yang menyerap 21 persen atau senilai US$28,7 miliar, dan Amerika Latin 4 persen atau sekitar US$5 miliar.

China menjadi pasar terbesar industri game dunia dengan 850 juta populasi online dengan omzet US$37,9 miliar. Sementara Indonesia menempati urutan Ke-17 pasar game dunia, setelah India dan Taiwan dengan jumlah populasi online mencapai 86 juta dan omzet US$ 1,13 miliar.

Lebih lanjut Jan menyadari adanya polemik mengenai game dengan konten kekerasan pascaterjadinya aksi terorisme di Selandia Baru yang dikaitkan dengan hobi pelaku memainkan game. Mengenai hal tersebut, Jan menyebut Indonesia telah memiliki aturan mengenai pembatasan umur untuk game.

Untuk itu, Jan menilai pengawasan orang tua menjadi faktor yang berperan sangat penting dalam mencegah berkembangnya perilaku agresif dan radikal akibat game.

Seperti diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu lalu sempat menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri perwakilan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Asosiasi e-Sports, psikolog, hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika mengenai game berkonten kekerasan.

Hasil FGD tersebut merekomendasikan sejumlah hal, mulai dari revisi Permen Kominfo No 11 Tahun 2016 tentang Klasifikasi Permainan Elektronik, hingga wacana pembatasan durasi bermain game berkonten kekerasan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
game

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top