BPPT Jajaki Kerjasama Sistem Kebumian Dengan Jepang

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengunjungi KBRI Jepang untuk menjajaki kerjasama sistem kebumian dengan Jepang. Sistem kebumian berperan penting untuk peringatan dini dan mitigasi bencana.
Fitri Sartina Dewi
Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  14:45 WIB
BPPT Jajaki Kerjasama Sistem Kebumian Dengan Jepang
Kepala BPPT Hammam Riza (kanan) dan Dubes RI untuk Jepang Arifin Tasrif di KBRI Jepang - Bppt.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengunjungi KBRI Jepang untuk membahas rencana kerjasama dengan Jepang terkait dengan penguatan peran BPPT di bidang teknologi sistem kebumian.

Pertemuan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang guna memperlancar berbagai rencana kerjasama BPPT dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta di Jepang.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa kunjungan kerjanya ke Jepang antara lain untuk mewakili Indonesia dalam "25th Session of the Intergovermental Oceanographic Commission (IOC) Committe on International Oceanographic Data and Information Exchange (IODE -XXV) and Scientific Conferences.

Selain itu, Kepala BPPT akan mengadakan pertemuan dengan Nippon Electric Company (NEC), pertemuan dengan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), dan pertemuan dengan Japan Meteorological Agency (JMA), serta pertemuan dengan para karya siswa BPPT di Jepang.

"BPPT saat ini di Jepang dalam rangka mewakili Indonesia dalam pertemuan IOC/IODE XXV, 2019," ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis BPPT, Kamis (21/2/2019).

Pada kesempatan tersebut, Hammam menjelaskan tentang pentingnya teknologi sistem kebumian bagi Indonesia kepada Dubes RI untuk Jepang. Dia menuturkan, bencana alam baik bencana geologi seperti gempa bumi dan tsunami maupun bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan dan kebakaran hutan perlu mendapatkan penanganan yang sangat serius.

BPPT berperan penting memberikan sumbangsih teknologi peringatan dini dan mitigasi bencana.

Disampaikan bahwa saat ini BPPT tengah bekerja keras menyiapkan buoy merah putih dan cable based tsunameter (CBT) yang akan segera dipasang di sekitar selat Sunda pada akhir Maret 2019.

BPPT juga selalu melaksanakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mitigasi bencana hidrometeorologi seperti kebakaran hutan dan lahan gambut, kekeringan, bahkan juga pengamanan acara kenegaraan dan acara besar seperti Asian Games 2018.

Selain itu, disampaikan pula teknologi sistem kebumian lain seperti pembangunan pilot plan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, pengelolaan tambang emas bebas merkuri, serta teknologi sumber daya alam lainnya yang tentunya memperhatikan aspek lingkungan, budaya, dan masyarakat setempat.

Kepala BPPT juga menyampaikan usulan terkait pembangunan pusat data kelautan nasional (NODC: National Oceanigraphic Data Center), yang disampaikan pihaknya dalam pertemuan IODE tersebut.

"Indonesia perlu membangun pusat data kelautan nasional NODC dan kemudian diusulkan untuk diakreditasi oleh IOC/IODE agar peran kita di tingkat internasional diakui. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi Indonesia baik untuk bidang kebencanaan maupun pembangunan nasional yang terkait dengan kemaritiman," jelasnya.

Sementara Dubes RI untuk Jepang Arifin Tasrif menyambut baik kedatangan tim Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Kepala BPPT. Arifin juga mengapresiasi atas kinerja BPPT saat ini yang dianggap concern dalam menciptakan inovasi untuk membangun Indonesia. Menurutnya, Indonesia yang memiliki BPPT harusnya mampu mendorong peningkatan penggunaan teknologi dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bppt

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup