Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Rusia Blokir Telegram

Regulator telekomunikasi Rusia memblokir Telegram di negara itu setelah perusahaan yang bergerak di layanan pesan singkat tersebut menolak memberikan akses ke pesan rahasia para penggunanya.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 17 April 2018  |  01:26 WIB
Siluet tangan seorang pria memegang ponsel di depan logo Telegram. - Bloomberg
Siluet tangan seorang pria memegang ponsel di depan logo Telegram. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Regulator telekomunikasi Rusia memblokir Telegram di negara itu setelah perusahaan yang bergerak di layanan pesan singkat tersebut menolak memberikan akses ke pesan rahasia para penggunanya.

Roskomnadzor mengumumkan telah mengirim notifikasi kepada operator telekomunikasi Rusia mengenai pemblokiran terhadap layanan Telegram di dalam Rusia. Seperti dilansir dari Reuters, Selasa (17/4/2018), Telegram memiliki lebih dari 200 juta pengguna di seluruh dunia dan menjadi layanan pesan singkat terpopuler ke-9.

Penerapan pemblokiran itu didasari oleh putusan pengadilan, yang disampaikan pada Jumat (13/4), yang menyatakan Telegram mesti diblokir karena melanggar aturan.

Adapun Telegram telah berulangkali menolak memenuhi permintaan badan keamanan Rusia, Federal Security Service (FSB), untuk memberikan akses terhadap pesan rahasia para penggunanya. FSB mengklaim akses dibutuhkan untuk menjaga keamanan nasional dari ancaman seperti serangan terorisme.

Telegram beralasan pemberian akses akan melanggar privasi pengguna. CEO Telegram Pavel Durov menilai pemblokiran tersebut akan merusak kualitas kehidupan 15 juta warga Rusia dan justru tidak membantu keamanan negara.

"Ancaman teroris di Rusia akan ada di level yang sama karena para ekstremis bakal terus menggunakan saluran komunikasi terenkripsi, di layanan pesan lainnya atau melalui VPN. Kami memandang pemblokiran ini tidak konstitusional dan akan terus memperjuangkan hak warga Rusia untuk berkomunikasi secara rahasia," paparnya.

Telegram banyak digunakan di negara-negara bekas Uni Soviet dan Timur Tengah. Bahkan, layanan ini juga dipakai oleh Kremlin untuk berkomunikasi dengan media dan mengoordinir konferensi pers dengan juru bicara Presiden Vladimir Putin.

Terkait hal ini, juru bicara kantor kepresidenan telah meminta media untuk beralih ke layanan pesan singkat lain yaitu ICQ, yang merupakan bagian dari grup lokal Mail.ru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia telegram

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top