Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pro dan Kontra Operator Soal Tarif Data Seluler yang Diklaim Terlalu Murah

Awal pekan lalu, industri telekomunikasi dikejutkan dengan kehadiran surat resmi usulan penetapan batas bawah tarif data seluler yang dilayangkan PT Indosat Tbk. kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Lavinda dan Sholahuddin Al Ayyubi
Lavinda dan Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 27 Juli 2017  |  17:56 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Awal pekan lalu, industri telekomunikasi dikejutkan dengan kehadiran surat resmi usulan penetapan batas bawah tarif data seluler yang dilayangkan PT Indosat Tbk. kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sejumlah grup para praktisi dan pengamat teknologi, informasi, dan telekomunikasi (TIK) di aplikasi pesan (messenger) mendiskusikan surat tersebut dari berbagai sudut pandang.

Beberapa pihak menyepakati usulan tarif bawah untuk menyehatkan industri, ada pula yang menduga ide tersebut hanya demi kepentingan bisnis operator dan menciderai pasar telekomunikasi nasional yang dikenal sangat liberal.

Operator seluler memberi tanggapan beragam terkait usulan kebijakan batas bawah tarif data yang semula dinilai mampu menyelesaikan persoalan perang harga dan penurunan tarif data yang tak berujung.

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) sepakat dan menilai tarif bawah perlu diterapkan agar tak menciderai keberlanjutan kinerja operator sekaligus industri telekomunikasi nasional.

Sementara itu, PT Hutchison Tri Indonesia lebih memilih untuk netral dan mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah.

Direktur Utama PT Indosat Tbk. Alexander Rusli menilai tarif data yang semakin murah tak pernah sampai pada titik jenuh. Hal itu mengkhawatirkan bagi perkembangan industri telekomunikasi nasional.  

Selama ini operator mengabaikan penurunan tarif data yang terus berlangsung karena masih bisa disubsidi oleh pendapatan dari layanan suara dan pesan singkat. Namun kelamaan, komposisi suara dan pesan singkat terus menyusut seiring perkembangan teknologi. 

“Kami tidak mau menunggu dua tahun lagi atau sampai habis, jadi kami pikir ini waktu yang tepat,” katanya di Jakarta, Kamis(20/7/2017).

Alex mengharapkan intervensi pemerintah karena dinamika pasar tak lagi mampu diselesaikan para pelaku industri. Berdasarkan sejarahnya, pemerintah telah memberi lisensi kepada banyak pemain sehingga industri menjadi inefisien. Kini pemerintah dinilai perlu ikut campur untuk mendorong kondisi industri yang sehat.

Data dari Mason Analytics menunjukkan yield dari jasa layaanan data tiga operator seluler terbesar di Indonesia merosot tajam. 

CEO Telkomsel Ririek Adriansyah menilai tarif layanan data yang dikenakan oleh operator kepada pelanggan masih terlalu murah jika dibandingkan dengan operator negara lain sehingga perlu disesuaikan agar industri tetap sehat.

Menurutnya, operator harus memperhatikan tiga hal terkait layanan layanan data. Pertama, harga yang ditawarkan operator kepada pelanggan harus terjangkau, namun tetap ada ‎margin sehingga industri berjalan dengan baik.

"Kalau operator bangkrut karena tidak ada margin gimana coba, kasihan juga. Tapi yang jelas harganya harus terjangkau, selama itu wajar ya terjangkaunya, artinya tetap ada untung," katanya.

Kedua, kehadiran layanan operator harus merata di seluruh wilayah Indonesia. Operator harus terus membangun ketersediaan layanan di seluruh wilayah yang kemungkinan besar tidak akan mendapatkan untung besar seperti wilayah perbatasan dan terluar Indonesia.

Ketiga, ‎industri telekomunikasi harus terus berkelanjutan dan tidak boleh berhenti membangun infrastruktur.

"Keberlanjutan ini juga penting ya bagi industri telekomunikasi. Jadi tiga hal itu harus diperhatikan oleh pelaku industri telekomunikasi, sehingga pelanggan nyaman menggunakan layanan operator," tutur Ririek.

Data dari McKinsey menunjukkan memang tarif layanan data di Indonesia termasuk yang termurah di kawasan, bahkan jauh di bawah negara dengan pendapatan per kapita lebih rendah seperti Kamboja dan Filipina.

Wakil Direktur Utama PT Hutchison Tri Indonesia Danny Buldansyah memiliki pendapat berbeda. Menurut dia, aturan batas bawah tarif data tak menyelesaikan masalah karena bisa berpotensi menurunkan daya saing operator dengan skala kecil.

“Menentukan batas bawah tak menyelesaikan masalah juga. Misalnya operator besar dan kecil jadi sama tarifnya, lalu bagaimana? Aturan juga harus melihat peta persaingan saat ini,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.

Penentuan tarif bawah juga dinilai tak akan menyelesaikan masalah perang harga jika ketentuan tarif dan waktu promosi tak turut diatur. Pasalnya, operator bisa saja memanfaatkan promosi sebagai senjata untuk memenangkan persaingan dengan operator lain.

Dia mengaku tak akan melakukan hal yang sama dengan mengirimkan surat resmi untuk memberi usulan penentuan tarif bawah data. Tetapi Tri juga tak akan memulai perang harga dengan operator lain.

Kendati demikian, dia menyadari tarif data saat ini terlalu murah dan tak sehat bagi perkembangan industri telekomunikasi. Operator memang belum mengalami kerugian, tapi sulit menambah investasi untuk memperluas jaringan serta memperbaiki kualitas layanan jika tarif data terus mengalami penyusutan.

Kondisi paling ideal bagi operator sebenarnya tarif data meningkat perlahan secara alami tanpa adanya perang harga, sembari memperbaiki kualitas layanan. Namun persoalannya, antara satu operator dan operator lainnya seringkali memanfaatkan situasi untuk saling mengambil pelanggan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

operator telekomunikasi tarif data telekomunikasi
Editor : Demis Rizky Gosta

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top